Pagi harinya, gue terbangun sekitar jam 6 kurang. Sungguh suatu prestasi luar biasa buat gue yang biasanya baru bangun jam errr ... errr ... setengah sembilan. Gue ngupi dan mulai antri mandi secara kamar mandi di rumah yang hanya ada satu itu harus gantian dipake oleh sebentar ... ortu gue, nenek, tante dan dua anaknya, kakak gue sekeluarga, dan gue, jadi ... 13 orang! Untung shalat di Bonjol mulai jam 7.30 pagi, bukan jam 7 seperti di Jakarta.
Ini adalah Idul Fitri pertama gue di Bonjol, seperti halnya tahun lalu yang pertama di Taluk. Pagi itu hujan udah berhenti tapi langit masih mendung. Shalat yang biasanya diadakan di lapangan karena khawatir turun hujan dipindahkan ke masjid yang terletak di halaman Museum Tuanku Imam Bonjol, hanya beberapa meter dari garis khatulistiwa. Pulang shalat, gue bersalaman dan cipika-cipiki dengan orang-orang rumah. (Apa? Sungkeman? Ih, pasti yang nanya Jawir deh nih. Maaf ya, kami orang Minang nggak punya kebiasaan sungkeman hehe...) Abis itu gue langsung sikat ketupat dengan rendang yang dimasak pake kayu dengan sayur gulai nangka dan pakis. Uenaaakkk ... tenan!
Nggak lama, rumah nenek gue mulai disatroni orang. Nggak heran karena nenek gue termasuk orang paling tua di kampung dan di lingkungan keluarga. Sesuai kebiasaan, nenek, ortu, kakak, abang ipar, tante, dan gue sebagai orang-orang dewasa di rumah mesti siap untuk disalami terlebih dulu oleh para sodara dan orang kampung yang datang untuk berhalal bih halal. (Dan tanpa gue sadari, biar Ramadhan udah lewat, di hari yang fitri ini, gue kembali diuji.)
Dengan memasang tampang ala ibu-ibu sasak tinggi Dharma Wanita yang lagi kunjungan ke Panti Asuhan dan bersalaman sambil nyubitin pipi sok gemas semua anak panti, gue menyambut mereka yang datang lengkap dengan membawa pasukan anak-anak mereka.
“Hayoooo..., salam sama Oom Yoyok,” kata salah seorang ibu sambil menyorongkan seorang bocah perempuan yang tersenyum malu-malu menyambut uluran tangan gue.
Dengan tersenyum lebar dan suara yang dibuat serenyah dan seramah almarhum Pak dan Bu Kasur, mantan guru gue di TK Mini di Jalan Kebun Binatang (sekarang Jalan Cikini II), gue pun bertanya, “siapa namanya?”
Anak itu hanya menggeleng dan bersembunyi di balik paha ibunya.
“Eh, jawab dong, Nak. Namanya Laura, Oom,” jawab sang Ibu bangga.

Tapi bukankah Melissa Gilbert tinggal di Hollywood. Di sana orthodontist bertebaran di setiap sudut gang yang bisa membantu menghambat keceriaan para gigi itu berpacu dengan sang mulut. Hasilnya kita tahu bahwa tawa ceria gigi rata Melissa dewasa sukses memincut hati Rob Lowe, yang dianggap salah satu cowok paling ganteng di era jahiliyah 80-an. Masalahnya, adakah orthodontist di satuuuuuu aja sudut di Bonjol yang dapat mengurung gigimu kelak, Nak, sehingga engkau bisa memikat hati Derby Romero ketika kalian dewasa kelak?
Begitu Laura berlalu, gue bersiap-siap menyambut seorang bayi yang dipersembahkan ke depan gue, anak kerabat gue yang tinggal di kampung seberang sungai. Nama kerabat gue adalah Lusi yang kemudian dipanggil secara Minang sebagai Aluih. Ketika dia memperkenalkan anaknya, dengan bodoh gue mengajukan pertanyaan yang sangat rawan terhadap kesuksesan gue berjaiman di tengah kesucian hari raya ini.
“Sia namo anak Aluih ko?” tanya gue. (Terjemahan: Siapa nama anak Aluih ini?)
“Cindy, Bang,” jawab Aluih sambil tersenyum lebar.
Nggak lama, datanglah salah seorang etek gue, Sri Ardieti yang akrab dipanggil si Et (salah satu contoh nama yang gue kasih di tulisan Kalau Orang Minang Kasih Nama pertama), yang menghampiri gue sambil menggendong bayinya untuk mengucapkan selamat hari raya. Belajar dari pengalaman, kali ini gue cari aman dan hanya berkomentar, “eh, ini anak yang baru lahir kemaren ini, ya?”
“Iya, Yo. Namanya Wulandari.”
Apaan sih? Siapa yang nanyaaaaaaaa? Gue pengen njerit sambil njedutin kepala gue ke tembok begitu mendengar nama itu. Gue tahu, duhai sidang pembaca yang budiman, anda semua mungkin akan bertanya-tanya, seaneh apakah nama Wulandari, selain bahwa nama tersebut di Sumatra akan mengesankan pemiliknya adalah transmigran bedol desa dari Wonogiri waktu Bendungan Gajah Mungkur akan dibangun. Pemilihan nama itu menjadi harus lebih dimaklumi lagi mengingat sang ibu datang dari keluarga yang almarhum ayahnya gemar memberi nama Jawir buat anak-anaknya sehingga Wulandari punya Mamak (paman) bernama Yono dan Maktuo (tante/bude) bernama Sri Yuningsih. Jadi, apalah artinya nama Wulandari selain upaya melestarikan kebiasaan Jawanisasi keluarga.

Nggak sanggup menahan semua kegalauan hati gue dengan semua fenomena nama-nama nggilani yang gue temui, gue curhat ke Etek Ren, adik bungsu bokap gue. Tapi memang takdir sudah jadi suratan, bukannya penghiburan yang gue peroleh, yang ada gue harus menanggung beban baru karena etek gue tercinta kemudian bercerita tentang kenistaan nama salah seorang temannya yang menurut gue adalah puncak keajaiban urang awak memberikan nama.
Tek Ren adalah seorang insinyur lulusan IPB yang sekarang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Padang. Biasanya, setiap akan ada sensus atau penghitungan statistik baru, dia harus mengikuti suatu pelatihan tertentu. Dalam salah satu pelatihan tersebut, Tek Ren akhirnya berkesempatan mengenal seorang rekannya yang berasal dari BPS Bukit Tinggi. Seperti biasa, ketika pelatihan dibuka pada hari pertama, nama semua peserta diabsen dengan cara disebut satu per satu hingga semua orang selesai dipanggil. Tak lama, saat pelatihan akan segera dimulai, seorang pria berdiri seraya mengacungkan tangannya.
“Nama saya belum disebut, Bu,” katanya.
“Ah, rasanya sudah saya sebut semua,” kata Ibu Trainer bingung. “Siapa namanya, Pak?”
Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
Siap-siap ...
“DON’T WORRY, Bu.”
Semua mata menatap pria bernama Don’t Worry itu dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya tawa mereka meledak. Si Ibu Trainer sambil tersenyum meminta maaf. Katanya, dia pikir kalimat “don’t worry” itu ditulis oleh panitia yang sedang menunggu konfirmasi peserta yang akan mengikuti pelatihan tersebut. Bukan nama orang.
Gue ngakak sampe sakit perut mendengar cerita Etek gue itu. Setelah bisa menarik nafas, gue bertanya, “Sebentar ... cara nulisnya gimana? Di-Indonesia-in jadi Don Wori atau emang pake English grammar yang bener segala?”
Rio, tabahlah sampai akhir ...
“Emang pake grammar yang benar, Yo, jadi D-O-N-tanda petik tunggal-T W-O-R-R-Y. DON’T WORRY!”
Mati gue! Gue nggak sanggup ngebayangin ada orang tua yang ngasih nama anaknya Don’t Worry dengan penulisan yang benar. Itu kan bukan nama, huaaaaa .... *menangis berguling-guling* Belajar bahasa Inggris di mana sih bapaknya? Apa sang bapak dapat ilham waktu dengar ada turis bule yang lagi jalan-jalan di Ngarai Sianok Bukit Tinggi, empat puluhan tahun yang lalu, dan ngomong “don’t worry.” Terus, dia suka dengan kalimat itu karena dia pikir itu nama Spanyol seperti Don Quixote, walau gue juga bingung dari mana dia mungkin pernah mendengar cerita tentang Don Quixote. Lantas, gue rasa dia meminta bule itu menuliskannya di atas kertas dan begitu anaknya lahir, dengan hati berbungkah kebahagiaan, dia berikan secarik kertas yang sudah lusuh itu kepada petugas Kenagarian sewaktu meminta akte kelahiran anaknya. Dengan susah payah, bapak petugas itu mengetik di mesin tik Brother seri pertama nama yang akan tercatat dalam sejarah sebagai puncak dari segala puncak keajaiban nama urang awak, mengalahkan John Travolta, menendang Lovely Son-nya Miund: ‘Don’t Worry’.
Gue menghela nafas dalam sambil membayang kekuatan mental Pak Don’t Worry yang hidup dengan nama itu empat puluh tahunan lamanya. Kagum gue. Kalo gue sih rasanya udah bakal melakukan hal yang dilakukan salah seorang Oom gue di kampung, Pak Etek Ucok: ganti nama. Gimana nggak, dia dikasih nama SAFRIANUS oleh orang tuanya, dan terbayang bukan begitu dia sekolah dan mengerti arti kata anus itu?
Sekarang, gue penasaran, kalo Pak Don’t Worry punya anak, dia kasih nama anaknya apa ya?
Mestinya ‘Be Happy’.