<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Suara termerdu

Suara siapakah yang termerdu di dunia ini? Kita bisa berdebat panjang mulai dari nentuin definisi merdu sampe seribu satu kategorisasinya. Siapapun bisa punya pilihan sendiri. Tapi, pagi itu, di tengah belantara hutan Bukit Barisan, gue sadari bahwa suara terindah dan termerdu itu adalah suara yang dilantunkan dengan segenap kasih dan cinta. Buat gue, suara seorang ibu adalah suara termerdu dan terindah di dunia.

*

Jam lima pagi. Matahari belum terbit, gelap. Gue udah nyetir sekitar sepuluh jam dan lama nggak berpapasan dengan satu mobil pun. Keponakan-keponakan gue yang besar, Fauzan dan Iqbal, tertidur di belakang bersama Cece, anak asuh kakak gue. Fifi, anak adek kakak ipar gue, juga tertidur sambil bersandar di samping ibunya, di bangku tengah.

Tiba-tiba dua keponakan gue yang terkecil bangun dan rewel. Mereka menangis berebutan mamanya.

“Abang Faiqal, di depan sama Papa ya, Nak. Nanti kalo Mama udah nidurin Adek Aydin, Abang sama Mama.”

“Nggak mau,” Faiqal menangis sambil memukul adiknya.

“Sama Papa aja ya, sayang,” Papanya coba membujuk.

“Huaaa....”

Tangis itu makin keras. Aydin juga nggak mau kalah. Mereka berdua koor tangis.

“Ya udah, Abang Mama gendong di kanan, Adek di kiri ya, ntar Mama nyanyiin. Tapi abang ikut bobo ya. Jangan main lagi”

Kakak gue pun menggendong Faiqal di kanannya yang berbaring sambil meminum susu dari botol dan kain lapuk. Aydin meminum susu sembari memilin-milin rambut mamanya, kebiasaannya setiap mau tidur. Dengan lirih dan lamat-lamat, kakak gue meninabobokan kedua anaknya, “Faiqal bobo, Faiqal mau bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk....”

Suara kakak gue bukan cuma biasa banget, tapi sering kali sumbang. Pernah, waktu SD ada pemilihan anggota paduan suara buat ikutan lomba, kakak gue nggak terpilih. (sementara, maaf ya, gue terpilih dan paduan suara SD gue jadi juara dua lomba paduan SD se-Jakarta Timur, hihi... sorry, dear sister) Dia sedih dan menangis. Padahal dia udah ikutan kursus nyanyi—secara kakak gue emang banceh kursus, semua kursus dia ikutin—tapi nggak banyak nolong memperbaiki kemampuannya nyanyinya.

Tapi, pagi itu, buat dua anaknya yang kelelahan, suara kakak gue terdengar merdu. Dan suaranya bisa menenangkan mereka, dan nggak lama mereka terlelap. Somehow, mendengar suara kakak gue nyanyi buat anaknya, dengan pitch control yang nggak kejaga, tangga nada yang atonal, di pagi buta, gue teringat suara nyokap yang juga suka menyanyi buat gue sebelum tidur. Suara nyokap gue yang lembut menyanyikan lagu yang sama selalu bisa bikin kegelisahan gue hilang. Gue akan berhenti menangis dan terbang ke alam mimpi.

Gue kangen nyokap.



Kalo Aydin dan Faiqal mau tidur


Old posting and comments

« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

7:03 AM

What a great site How to inject xanax    



»

Post a Comment