<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Satu langkah

Perjalanan seribu li dimulai dengan satu langkah kaki (Pepatah China).

Pepatah atau peribahasa ini adalah salah satu pepatah atau peribahasa kesukaan gue. Sejak tahu peribahasa ini, entah kapan, gue selalu mengingatkan diri sendiri kalau malas gue kumat, atau disiplin gue drop, bahwa segala pekerjaan besar, seberat apapun, dimulai dengan perbuatan kecil. Hebatnya pepatah ini, dia bisa diterapkan secara harfiah maupun kiasan. Kalo mau sampe kantor, ya gue kudu mulai dengan melangkahkan kaki keluar kamar. Tapi, untuk bisa menyelesaikan skripsi—yang gue kerjain selama tiga tahunan itu—gue memulainya dengan mengetik judul proposal.

Perjalanan gue pulang kampung kali ini punya arti harfiah dan kiasan sekaligus. Secara gue bakal nyetir mobil menuju kampung halaman nyokap dan bokap gue di Sumatera Barat, perjalanan literal dimulai ketika kakak gue dan pasukannya menjemput gue di kos.

Namun perjalanan ini juga punya arti lain buat gue. Selama ini, istilah pulang kampung buat gue nggak lebih dari sekedar liburan ke desa tempat kelahiran orang tua. Gue nggak pernah menganggap kampung halaman orang tua gue sebagai kampung halaman gue juga. Kampung halaman gue adalah Jakarta.

Sekarang, semua berubah sejak orang tua gue tercinta memutuskan untuk menghabiskan hari tuanya di kampung. Dan gue sadar, salah satu dampak keputusan mereka adalah gue bakal sering pulang kampung. Seenggaknya setahun sekali. Gue harus belajar mencintai kampung mereka agar gue selalu merasa keinginan untuk kembali.

Perjalanan fisik pulang kampung ini dimulai dengan satu langkah kaki yang gue ayun untuk masuk ke dalam mobil panther kakak gue. Kehadiran gue membuat populasi mobil itu pun bertambah menjadi sepuluh. Gue, kakak gue, kakak ipar gue, adek kakak ipar gue, ditambah satu orang ABG—anak tetangga yang udah jadi kayak anak asuh kakak gue (o ya, dia keponakannya Mbak Lena [lihat Mbak Lena Tonggos])—dan lima orang bocah, empat keponakan laki-laki gue dan satu orang sepupu. A full-house car.

1500 km to go.

Old posting and comments
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »