<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Jadi orang Jawa sehari II - Permintaan kecil

Pertemuan gue dengan Bibi Titi Teliti Gajahwati di Secret Recipe berakhir dengan satu permintaan kecil dari si Gedes ini.

"Yo, gue minta tolong lo ntar ikutan jadi keluarganya Abang ya," katanya.

"Oke," jawab gue cepat.

Dia kaget, "lho, tumben lo nggak protes."

"Buat apa? Gue udah bilang dari dulu kalo lo mau merid lo tinggal ngomong gue bisa bantu apa, ya gue akan bantu sebisa gue.
Makanya apa yang mau diprotes."

"Iya, berarti lo ikutan dateng pagi dan dandan pake baju Jawa ya," katanya.

"No, problemo," jawab gue mengentengkan permasalahan.

http://img.photobucket.com/albums/v327/guario/TH04CAs.jpg">

Dan, o betapa salahnya gue. Seumur hidup gue, dari kecil sampe sekarang, dari zaman masih ikutan karnaval buat ngerayain Kartini atau 17 Agustusan, dari zaman SMA-kuliah dan sering diminta jadi pagar bagus, entah kenapa gue rasanya jaraaaang banget pake pakaian adat Jawa lengkap. Lagian, tampang oriental kayak gue emang kagak ada pantes-pantesnya pake blangkon, bukan? Jadi gue nggak pernah bener-bener sadar betapa ribetnya pake kain!

Tapi hari Sabtu itu gue NGERASAIN betapa tersiksanya, betapa nggak nyamannya, mengenakan pakaian adat Jawa. Lah, Mas Wisa yang Jawanis murni aja nggak mau disuruh pake baju itu, apa kabarnya orang Minang muka Cina kayak gue kalo disuruh pake baju Jawa?

Menurut gue, maaf buat para Jawanis (Mas
Wisa sih udah maklum ya, hihi...), pakaian adat laki-laki Jawa itu sangat nggak manusiawi (Sementara pakaian adat perempuan paling nggak manusiawi menurut gue adalah pakaian adat anak daro alias pengantin perempuan Minang dengan suntingnya yang amit-amit beratnya itu). Nggak bisa jalan, nggak bisa duduk enak, semua serba salah! Beteeeeee banget.

Aduh plis deh ah, nggak lagi-lagi.

Mau tahu celaan orang iri hati dan dengki melihat betapa imyutnya gue pake blankon? Klik sini ajah! Itu waktu di Blogdrive lho. Yang belum muji masih punya kesempatan dg mengklik yang di bawah ini *wink wink*

« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

»

Post a Comment