<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Perut bintang lima

Gue diare, muntah melulu, mencret melulu dari hari Jumat. Awalnya di kantor sebelom Jumatan, virus-virus diare di perut gue yang udah gerilya sejak sarapan akhirnya memenangkan pemberontakan. Nasi, gudek, kerecek, rendang, dan kerupuk yang gue sikat pagi tadi berhasil ditendang keluar semua dari lambung.

Dan sejak itu virus diare mengkudeta perut gue yang biasanya sangat eklektik seperti suaranya Joy yang bisa nyanyiin apa aja itu. Secara perut gue bisa nerima makanan apa aja, nggak suka pilih-pilih dan mencerna dengan sama baiknya. Mo makanan dengan tingkat goyangan lidah tinggi (karena pedas) seperti waktu Joy mbawain lagu Kuakui sampe yang manis kayak suara Joy mbawain lagu Pelangi.

Perut gue yang juga bisa disamain kayak New York, secara sangat internasional dan terdiri dari banyak kultur. Mulai dari sushi sampe goreng lindung, singkong rebus sampe hisit, perut gue menerima dengan lapang lambung, menampung dan membinanya sampai saatnya mereka pergi. Euuuhh...

Tapi sekarang, sejak virus-virus terkutuk itu berkuasa, mereka telah memaksa semua makanan yang masuk seperti Tom Hanks di The Terminal. Cuma bisa transit sebentar buat kemudian ditendang keluar lagi lewat asal datangnya, mulut! Kalopun ada yang berhasil lolos, mereka sukses menyiksa hingga akhirnya luluh lantak mencair. Oh kejamnya virus-virus itu!

Sabtu sore itu, sebelom untuk kesekian kalinya virus-virus itu berhasil mendeportasi nasi tim ayam yang baru gue makan, secara gue udah nyari makanan lunak begetoh, gue bersekutu dengan dokter di MMC, Kuningan. Tapi sebelom gue minum obat, mereka udah sukses. Bendera putih dikibarkan. Gue nggak sanggup makan apa-apa. Badan lemas, perut keram, lidah pahit. Cuma biskuit marie regal yang nggak dideportasi. Sampe Senin pagi badan gue berasa hancur, patah tulang, dan lemes minta ampun.

Hari Senin badan gue perlahan membaik baik karena gue udah mulai bisa makan bubur nasi dengan sop bikinan adek ipar gue. Dan pelan-pelan, sampe hari Selasa kemaren, nafsu makan gue balik lagi. Biar masih suka ke belakang, gue optimis bakal bisa ngalahin virus-virus laknat itu! Rabu bisa ngantor lagi! Ngeblog lagi.

Kesimpulan, perut gue itu memang seperti New York, mahal dan kelasnya bintang lima! Apa daya, kantong kaki lima! Jadi teman-teman, silakan antri buat gantian traktir gue di coffee shop Grand Hyatt. Apa? Nggak mau? Gimana sih? Katanya care!

Huh, pembohong kalian semua!

Old posting and comments
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

11:57 AM

Kyaa..Grand Kape-nya Grand Hyatt!Yok makan Hong Kong Noodle pake kuah daging sapi. Bujubuneng..enak betul=^~^=    



»

Post a Comment