<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Perjodohan II – Berkibarlah bendera(putih)-ku

Gue adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakak gue adalah cewek semata wayang dan adek-adek gue cowok semua. Ketiganya udah merid. Adek-adek gue, yang jarak umurnya cuma setahun, menikah juga hanya terpaut satu tahun, tahun 2001 dan 2002. Dan ada persamaan unik antara bokap dan adek-adek gue itu. Mereka bertiga menikah di usia yang sama: dua puluh tujuh tahun.

Secara semua udah merid, gue pun jadi pusat perhatian semua orang di keluarga. Nggak ada bosennya di setiap acara keluarga gue mendapatkan pertanyaan “kapan nyusul” yang sepertinya diteriakin dari atas tebing Ngarai Sihanok sehingga bergaung dan bergema nggak habis-habis... nggak habis-habis... nggak habis-habis... nggak habis-habis!

Huh!

Kalo suasana hati lagi baik, jawaban standar gue adalah, “belum ketemu jodoh, Tante/Oom/Kek/Nek/Opa/Oma/Paktuo/Maktuo/Pak etek/Etek/Mamak/Wan.”

Tapi tanya deh kalo mood gue lagi agak-agak bosan, yang sering banget terjadi, jawaban gue akan beragam dari yang jayus hingga paling jayus secara gue udah kehilangan kreativitas gue kalo udah ditanya soal yang satu itu. Mulai dari: “Errr... Oom beliin saya rumah sama BMW dan deposito 10 M, saya kawin deh!”; ato kalo nggak, “Lho, Tante belum terima undangannya ya? Nanti saya cek ke Tiki deh.”; sampe, “Saya nggak mau kawin kalo bukan sama Gwyneth Paltrow.”

Ya, ya, ya, gue tahu alasan gue super duper garing secara pertanyaannya juga makdikipe gigi lo belumut bin najong kriuknya.

Dan kakak gue tercinta termasuk orang yang paling getol “menjual” gue ke semua orang yang dia kenal. Nggak tahu apa yang dia kibulin ke orang-orang kok ya mereka pada pengen kenal gue. Tapi secara gue terkenal cuek berat dan nggak pernah pedulian ato menghargai semua usahanya, pelan-pelan dia nyerah. Terutama setelah usaha terakhirnya untuk ngenalin gue dengan anak tetangganya yang masih kuliah di Trisakti gagal total dengan satu kalimat berbisa yang gue lontarin dengan senyum menyeringai memamerkan semua gigi taring gue yang kuning gara-gara kebanyakan antibiotik waktu kecil.

“Lo pikir gue babysitter?”
Kakak gue ngambek, “Terserah lo deh! Lo emang bebal!”

Yeee bolehnye renyem. Lagian, pacaran sama anak kuliah? Aduh, yang ada kepala gue bakal dibikin pusing sama seribu satu kemanjaan yang nggak jelas. Thanks, dear sister, tapi lebih baik gue lo lepas di kandang macan Taman Safari daripada mesti macarin anak kuliah.

Tapi sekarang, gue nggak tega ngedengar curhatan dia bahwa dia didonderin mamak gue itu yang bahkan setelah pulang ke kampungnya di Pesisir Selatan sana masih sempat-sempatnya menelepon kakak gue beberapa kali buat nanya kapan gue dikenalin dengan anak kerabat mereka di Jakarta itu yang, mbok ya o, namanya kok sama kayak kakak gue, Rini.

“Coba dulu lah, Yo,” suara kakak gue terdengar melas banget di telepon.
“Lu tu ye nggak kapok-kapok. Perasaan gue udah cukup kejam nyemprot lo terakhir kali.”
“Gue udah kapok, tahu!” kakak gue membela diri. “Gue tahu kepala gede lo itu keras kayak batu! Tapi gue nggak enak soalnya Mak Yunar itu neleponin gue melulu.”

Gue diam. Gue kasihan sama kakak gue. Gue tahu banget, sejak kejadian terakhir, dia nggak berani nanya ke gue soal kapan gue mau menikah. Sedangkan kakak ipar dan adek-adek gue juga sama aja kapoknya. Gue pernah disidang hampir dua tahun yang lalu di satu restoran dengan agenda pembahasan tentang rencana gue menikah. Kakak ipar sekaligus oom gue dan kedua adek gue gantian menyerang gue dengan seribu satu argumen memaksa gue buat cepat menikah. Dengan lincah seperti David Beckham menggocek lawan secara gue emang rada-rada mirip Beckham *narsis mode on*, gue menangkis semua argumen mereka. Adek gue cuma bisa ngomong, “lo ke laut aja deh, Yo!”

Idih, kok jadi nyolot? Nekad sih ngajakin gue debat, hihihi... Udah tahu gue nggak mau kalah anaknya, apalagi soal yang satu itu. Gue nggak main-main dengan pilihan gue dan gue sadar dengan semua resikonya. Jangan nekad kasih argumen agama ke gue karena gue emang bukan orang yang taat juga. Kalo shalat yang lebih wajib aja masih jarang gue kerjain, apa lo pikir gue bakal kawin karena alasan agama menyuruh ummatnya buat menikah? Woi, prioritas itu jangan kebalik. Kerjain yang wajib dulu deh!

Gue juga nggak pernah pusing sama tuntutan sosial karena dinamika sosial itu bergerak cepat. Apa yang dianggap nggak pantas dulu, sekarang nggak masalah. Zaman gue SMA, pake jilbab bisa bikin orang dikeluarin dari sekolah. Sekarang? Jilbab udah jadi komoditi gaya hidup dan komersial. Hidup melajang mungkin aneh dulu, tapi nanti, eh, ntar dulu. Buat gue, mending nggak menikah kalo cuma cari status sosial. Sumpah, enggak banget!

Gue juga nggak terima argumen bahwa umur menentukan kapan seseorang sebaiknya punya anak. Karena itu namanya rezeki, dan menurut gue itu bukan urusan kita. Gue masih sangat percaya bahwa itu urusan Tuhan. Lagian kalo cuma pengen anak aja sih, adopsi aja kenapa? Ada terlalu banyak anak terlantar yang bisa dibantu kehidupannya jadi lebih baik daripada menikah hanya buat punya anak dan menuh-menuhin dunia yang udah kepenuhan ini.

Di sidang itu, gue udah bikin pernyataan jelas bahwa gue nggak berpikir untuk menikah dalam beberapa tahun ke depan. Gue juga nggak pernah berpikir bahwa menikah itu satu kewajiban. Tapi, catet, gue nggak pernah bilang bahwa gue nggak akan menikah seumur hidup gue. Gue nggak mau ngelangkahin Yang Di Atas secara jodoh itu kan emang bukan urusan manusia. Jadi, keputusan itu bukan harga mati, masih bisa ditawar. Dan gue bakal meninjau keputusan gue itu nanti. Ada kemungkinan gue bakal memperpanjang keputusan itu, atau gue terminasi. Secara, kontrak kerja kali.

Namun, ada kalanya, keputusan yang udah gue ambil itu mempengaruhi orang-orang terdekat gue dengan cara yang gue nggak harapin. Seperti kakak gue yang harus kelabakan menerima pertanyaan dan penawaran orang yang pengen ngejodohin gue dengan kerabat-kerabat. Kadang kalo kakak gue cerita soal orang-orang yang “minta” gue, gue nggak nyangka ternyata gue segitu lakunya ya *pipi bersemu merah*. Orang itu nggak bisa lihat apa kalo gue bukan “the marrying kind”. Dan gue kasihan kakak gue harus ngejelasin kenapa gue—adeknya—bisa punya pikiran yang nggak Islami dan nggak Minangi sampe menganggap pernikahan bukan suatu kewajiban. Dia nggak punya pilihan selain terpaksa harus ngeles ke sana ke mari karena dia tahu adeknya yang satu ini nggak gampang dipengaruhi.

Tapi gue paling sedih ketika keputusan gue itu mempengaruhi orang yang paling gue cintai di dunia ini, nyokap. Kalo nyokap dengan sedih nangis di telepon dan bicara tanpa menyalahkan gue tapi balik menyalahkan dirinya yang udah merasa gagal membesarkan anak, anak yang nggak saleh dan jauh dari agama, berpikir terlalu jauh buat akal sehat dan norma sosialnya; kalo udah gini, gue nggak tahu mesti bilang apa dan cuma berlagak bisa diam dan membesarkan hati nyokap gue. Kalo udah gini, kadang gue pengen nyerah. Kalo udah gini, begitu tutup telepon, gue luluh dan cuma bisa nangis dan ngebathin.

It’s not your fault, Mother. It’s never been anybody’s fault. Don’t blame yourself. Don’t ever blame yourself. You did nothing but wonderfully raised this ungrateful son of yours the best that you know how. With love and dignity and the strong confidence and self esteem in my ownself. And God knows what a great mother you have been to me. Just love me for what I am, mother, my strengths and my weaknesses. I’m a grown up now, my wings are strong enough to take me flying.

But sometimes, I fly too high and wind lunges and I plunge. Sing me that lullaby you sang for me when I was little for your song will soothe my wounded soul and give me strength to face the day. Caress me for your touch will sprout wings on my back and fly me back in the air. Say a prayer for me for your prayer will be the cloud to shelter me from the heat of the blazing sun.

Don’t cry, because every tear you shed is a dagger stabbing my heart. Just be happy for me, because your smile is the water for my thirst in this long journey through the desert called life. And I know, every time a sand storm blows my gutts out, I’ll have you there to shield my eyes from the blinding sand. And I will still be able to see my way through the storm. Please say that prayer again and again and again, dear mother, then I’ll be alright.

So, akhirnya gue nyerah.

“Ya udah, kasih nomer telepon si Rini itu ke gue, biar gue hubungin dia.”
“Terus kapan lo gue kenalin ke dia?” suara kakak gue terdengar lebih ceria.
“Ih, yang bener aja!” kata gue nyolot. “Lo pikir umur gue sebelas tahun? Gue bisa ketemu sendiri sama dia. Ngapain lo ikut, yang bener aja!”

Gue nggak butuh chaperon deh.

Old posting and comments
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

»

Post a Comment