Tuesday, October 26, 2004

Kisah si Mince I-Tukang catut

Jam setengah tujuh telepon kantor gue berdering dan suara sekretaris van Salatiga kantor gue terdengar berteriak, “Schaart, ada tele buat jij.”

Aduh, sapa sih nih, gue udah telat les deh. Kenny biasanya bakal ngomel kalo gue telat. Gue angkat telepon dan suara Mince, salah seorang teman dekat gue, terdengar di ujung kabel.

“Bo, tolongin gue dong,” katanya tergesa-gesa.
“Ada apaan sih? Suara lo kayak orang mau disembelih.”
“Tolong lo telepon nyokap gue.”
“Hah? Kagak salah? Apa urusannya gue nelepon nyokap lo?” gue benar-benar kebingungan.
“Bilang ke nyokap gue kalo lo lagi jalan sama gue,” suara si Mince terdengar memelas.

Oh no, not again. Untuk yang ke-18.862.564 kalinya si Mince nyatut nama gue dan bilang ke nyokapnya kalo dia pergi sama gue, padahal dia jalan dengan backstreet boys-nya. Gue emang kenal orang tuanya, dan mereka percaya sama gue. Kalo si Mince pengen dugem dengan teman, dan bukan keluarga, selama ada gue, dia gampang dapet izin dan bisa pulang rada pagi.

Gue nggak pernah suka nama gue dicatut seperti itu. Tapi, si Mince nggak biasa terbuka dan berterus terang kepada ibunya yang rada-rada otoriter itu. Jeleknya, dia jadi terbiasa untuk berbohong dan mencatut nama teman-temannya kalo perlu, termasuk nama gue. Sangking seringnya, gue sadar kalo cuma masalah waktu aja yang bakal bikin nyokapnya yang ghualak itu sadar udah ditipu.

Dan waktunya pun tiba. Time to face the music. Dengan jantung berdebar-debar, gue telepon nomor rumah si Mince. Ibunya yang angkat.

“Selamat malam, Tante,” sapa gue dengan suara sesopan dan secarmuk mungkin. “Ini Rio.”
“Oh, ya,” suara ibu si Mince terdengar dingin. “Mince mana?”
“Lagi ke toilet, Tante,” gue berbohong dengan sangat tidak meyakinkan. Sial, gue pasti gagal dapet Oscar tahun ini.
“Ah, masa?” suara Tante Batak itu terdengar bertambah dingin dan, jelas, nggak percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulut gue.
“Iya, Tante. Nanti saya suruh ia telepon Tante kalo udah selesai,” jawab gue sesuai skenario yang tadi disepakatin. “Makasih Tante, malam.”

Selesai gue menutup pembicaraan dengan nyokap si Mince, gue telepon anaknya yang lagi berasyik masyuk dengan cinta terlarangnya.

“Nyokap lo nggak percaya,” kata gue.
“Gak papa, ntar gue yang telepon dan ngejelasin. Tengkyu ya, bo.”

Gue pun pergi kursus.

Esok paginya gue menerima email dari si Mince yang dikirim dari alamat kantornya. Bunyinya singkat: “Nyokap gue marah besar, gue diusir dan sekarang gue tinggal sama Oom gue.”

Duh, Mince, bau busuk selalu kecium akhirnya.

Old posting and comments

2 comments: