Monday, November 21, 2005

CARITO MUDIAK KAAMPEK Kalau orang Minang (lagi-lagi) kasih nama

Setelah tertunda di Betung, perjalanan gue ke kampung halaman nggak mengalami hambatan berarti. Memasuki wilayah Solok hujan mulai turun dan lepas dari Danau Singkarak, giliran kabut pecicilan turun menghalangi pandangan hingga ke Bukit Tinggi. Kabut terus keluyuran sampe Bonjol sehingga Abang ipar gue nyetir dengan pelan. Akhirnya kami sampe di Bonjol jam setengah sebelas malam. Bokap dan nyokap udah nungguin dengan cemas karena anak-cucunya lama nggak muncul-muncul. Malam itu malam takbiran, namun masjid yang terletak agak jauh membuat suara takbir tak terdengar. Setelah sejenak melepas rindu dan berbenah seperlunya, kami semua berusaha untuk segera tidur karena besok harus bangun pagi untuk shalat Idul Fitri.

Pagi harinya, gue terbangun sekitar jam 6 kurang. Sungguh suatu prestasi luar biasa buat gue yang biasanya baru bangun jam errr ... errr ... setengah sembilan. Gue ngupi dan mulai antri mandi secara kamar mandi di rumah yang hanya ada satu itu harus gantian dipake oleh sebentar ... ortu gue, nenek, tante dan dua anaknya, kakak gue sekeluarga, dan gue, jadi ... 13 orang! Untung shalat di Bonjol mulai jam 7.30 pagi, bukan jam 7 seperti di Jakarta.

Ini adalah Idul Fitri pertama gue di Bonjol, seperti halnya tahun lalu yang pertama di Taluk. Pagi itu hujan udah berhenti tapi langit masih mendung. Shalat yang biasanya diadakan di lapangan karena khawatir turun hujan dipindahkan ke masjid yang terletak di halaman Museum Tuanku Imam Bonjol, hanya beberapa meter dari garis khatulistiwa. Pulang shalat, gue bersalaman dan cipika-cipiki dengan orang-orang rumah. (Apa? Sungkeman? Ih, pasti yang nanya Jawir deh nih. Maaf ya, kami orang Minang nggak punya kebiasaan sungkeman hehe...) Abis itu gue langsung sikat ketupat dengan rendang yang dimasak pake kayu dengan sayur gulai nangka dan pakis. Uenaaakkk ... tenan!

Nggak lama, rumah nenek gue mulai disatroni orang. Nggak heran karena nenek gue termasuk orang paling tua di kampung dan di lingkungan keluarga. Sesuai kebiasaan, nenek, ortu, kakak, abang ipar, tante, dan gue sebagai orang-orang dewasa di rumah mesti siap untuk disalami terlebih dulu oleh para sodara dan orang kampung yang datang untuk berhalal bih halal. (Dan tanpa gue sadari, biar Ramadhan udah lewat, di hari yang fitri ini, gue kembali diuji.)

Dengan memasang tampang ala ibu-ibu sasak tinggi Dharma Wanita yang lagi kunjungan ke Panti Asuhan dan bersalaman sambil nyubitin pipi sok gemas semua anak panti, gue menyambut mereka yang datang lengkap dengan membawa pasukan anak-anak mereka.

“Hayoooo..., salam sama Oom Yoyok,” kata salah seorang ibu sambil menyorongkan seorang bocah perempuan yang tersenyum malu-malu menyambut uluran tangan gue.

Dengan tersenyum lebar dan suara yang dibuat serenyah dan seramah almarhum Pak dan Bu Kasur, mantan guru gue di TK Mini di Jalan Kebun Binatang (sekarang Jalan Cikini II), gue pun bertanya, “siapa namanya?”

Anak itu hanya menggeleng dan bersembunyi di balik paha ibunya.

“Eh, jawab dong, Nak. Namanya Laura, Oom,” jawab sang Ibu bangga.

Gue menatap tampang bocah perempuan itu sambil berpikir keras dari mana ide nama Laura itu bisa muncul begitu anak itu diletakkan bidan(atau dukun beranak?) di pangkuan ibunya setelah melahirkan ya? Nama Laura yang terlintas di kepala gue saat itu adalah Laura Ingalls yang diperanin Melissa Gilbert. Dan persamaan satu-satunya antara Lauranya Melissa dan Laura-nya Bonjol adalah giginya yang, maaf, berlari penuh suka cita mendahului mulutnya seperti kegembiraan Laura berlari jatuh bangun di padang rumput.

Tapi bukankah Melissa Gilbert tinggal di Hollywood. Di sana orthodontist bertebaran di setiap sudut gang yang bisa membantu menghambat keceriaan para gigi itu berpacu dengan sang mulut. Hasilnya kita tahu bahwa tawa ceria gigi rata Melissa dewasa sukses memincut hati Rob Lowe, yang dianggap salah satu cowok paling ganteng di era jahiliyah 80-an. Masalahnya, adakah orthodontist di satuuuuuu aja sudut di Bonjol yang dapat mengurung gigimu kelak, Nak, sehingga engkau bisa memikat hati Derby Romero ketika kalian dewasa kelak?

Begitu Laura berlalu, gue bersiap-siap menyambut seorang bayi yang dipersembahkan ke depan gue, anak kerabat gue yang tinggal di kampung seberang sungai. Nama kerabat gue adalah Lusi yang kemudian dipanggil secara Minang sebagai Aluih. Ketika dia memperkenalkan anaknya, dengan bodoh gue mengajukan pertanyaan yang sangat rawan terhadap kesuksesan gue berjaiman di tengah kesucian hari raya ini.

“Sia namo anak Aluih ko?” tanya gue. (Terjemahan: Siapa nama anak Aluih ini?)

“Cindy, Bang,” jawab Aluih sambil tersenyum lebar.

Sambil tersenyum dengan hati berat, gue pun mencubit pipi bocah itu dengan kegemasan yang nggak gue buat-buat sambil mencari tahi lalat di atas bibir Cindy-nya Bonjol yang mungkin telah memberi inspirasi Ibunya. Nggak ketemu. Lantas, kenapa dikasih nama Cindy? Gue gemas, emang apa salahnya sih sama nama standar Minang kayak Dahniar, Rosni, atau Rasuna? Atau nama-nama Islami yang biasanya juga jadi ciri urang awak? Kenapa harus ngasih nama Barat keparat sih? Gue merutuk semua acara tivi yang udah memberi sodara-sodara gue—yang notabene hidup di kampung—ilham gila-gilaan untuk memberikan berbagai nama Barat kepada anak-anak mereka. Sementara sodara-sodara gue di Jakarta aja nggak gitu-gitu amat. Malah, oom gue yang kawin sama orang Jawa aja ngasih nama anaknya Malin. Tuh, kurang Minang apa coba!

Nggak lama, datanglah salah seorang etek gue, Sri Ardieti yang akrab dipanggil si Et (salah satu contoh nama yang gue kasih di tulisan Kalau Orang Minang Kasih Nama pertama), yang menghampiri gue sambil menggendong bayinya untuk mengucapkan selamat hari raya. Belajar dari pengalaman, kali ini gue cari aman dan hanya berkomentar, “eh, ini anak yang baru lahir kemaren ini, ya?”

“Iya, Yo. Namanya Wulandari.”

Apaan sih? Siapa yang nanyaaaaaaaa? Gue pengen njerit sambil njedutin kepala gue ke tembok begitu mendengar nama itu. Gue tahu, duhai sidang pembaca yang budiman, anda semua mungkin akan bertanya-tanya, seaneh apakah nama Wulandari, selain bahwa nama tersebut di Sumatra akan mengesankan pemiliknya adalah transmigran bedol desa dari Wonogiri waktu Bendungan Gajah Mungkur akan dibangun. Pemilihan nama itu menjadi harus lebih dimaklumi lagi mengingat sang ibu datang dari keluarga yang almarhum ayahnya gemar memberi nama Jawir buat anak-anaknya sehingga Wulandari punya Mamak (paman) bernama Yono dan Maktuo (tante/bude) bernama Sri Yuningsih. Jadi, apalah artinya nama Wulandari selain upaya melestarikan kebiasaan Jawanisasi keluarga.

Begini ya ... yang membuat gue mendadak ingin memanjakan hasrat masokis gue begitu nama Wulandari disebut adalah karena nama itu langsung mengingatkan gue akan sebuah film dokumenter yang belum lama ini gue tonton di Q! Film Festival. Film itu mengisahkan perjalanan hidup seorang waria dari seorang pelacur di Taman Lawang, Jakarta, menjadi seorang pelacur di Taman Laffayette, Paris, hingga akhirnya sukses merebut hati seorang pria Prancis yang kemudian mengajaknya hidup bersama. Dan ... dari manakah asal-usul Wulandari sang pelacur? Ya, betul. Wulandari, dara lanang bernama Jawa itu berasal dari ranah Minang, ranah nan kayo pusako Bundo Kanduang tacinto. Onde mande, gue habis dinista Iwan dan Pram waktu Wulandari ‘the banci’ mengakui asal-usulnya itu. Enough! Gue hajar kalo ada yang berani komen lagi!

Nggak sanggup menahan semua kegalauan hati gue dengan semua fenomena nama-nama nggilani yang gue temui, gue curhat ke Etek Ren, adik bungsu bokap gue. Tapi memang takdir sudah jadi suratan, bukannya penghiburan yang gue peroleh, yang ada gue harus menanggung beban baru karena etek gue tercinta kemudian bercerita tentang kenistaan nama salah seorang temannya yang menurut gue adalah puncak keajaiban urang awak memberikan nama.

Tek Ren adalah seorang insinyur lulusan IPB yang sekarang bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Padang. Biasanya, setiap akan ada sensus atau penghitungan statistik baru, dia harus mengikuti suatu pelatihan tertentu. Dalam salah satu pelatihan tersebut, Tek Ren akhirnya berkesempatan mengenal seorang rekannya yang berasal dari BPS Bukit Tinggi. Seperti biasa, ketika pelatihan dibuka pada hari pertama, nama semua peserta diabsen dengan cara disebut satu per satu hingga semua orang selesai dipanggil. Tak lama, saat pelatihan akan segera dimulai, seorang pria berdiri seraya mengacungkan tangannya.

“Nama saya belum disebut, Bu,” katanya.

“Ah, rasanya sudah saya sebut semua,” kata Ibu Trainer bingung. “Siapa namanya, Pak?”

Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.

Siap-siap ...


“DON’T WORRY, Bu.”

Semua mata menatap pria bernama Don’t Worry itu dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya tawa mereka meledak. Si Ibu Trainer sambil tersenyum meminta maaf. Katanya, dia pikir kalimat “don’t worry” itu ditulis oleh panitia yang sedang menunggu konfirmasi peserta yang akan mengikuti pelatihan tersebut. Bukan nama orang.

Gue ngakak sampe sakit perut mendengar cerita Etek gue itu. Setelah bisa menarik nafas, gue bertanya, “Sebentar ... cara nulisnya gimana? Di-Indonesia-in jadi Don Wori atau emang pake English grammar yang bener segala?”

Rio, tabahlah sampai akhir ...


“Emang pake grammar yang benar, Yo, jadi D-O-N-tanda petik tunggal-T W-O-R-R-Y. DON’T WORRY!”

Mati gue! Gue nggak sanggup ngebayangin ada orang tua yang ngasih nama anaknya Don’t Worry dengan penulisan yang benar. Itu kan bukan nama, huaaaaa .... *menangis berguling-guling* Belajar bahasa Inggris di mana sih bapaknya? Apa sang bapak dapat ilham waktu dengar ada turis bule yang lagi jalan-jalan di Ngarai Sianok Bukit Tinggi, empat puluhan tahun yang lalu, dan ngomong “don’t worry.” Terus, dia suka dengan kalimat itu karena dia pikir itu nama Spanyol seperti Don Quixote, walau gue juga bingung dari mana dia mungkin pernah mendengar cerita tentang Don Quixote. Lantas, gue rasa dia meminta bule itu menuliskannya di atas kertas dan begitu anaknya lahir, dengan hati berbungkah kebahagiaan, dia berikan secarik kertas yang sudah lusuh itu kepada petugas Kenagarian sewaktu meminta akte kelahiran anaknya. Dengan susah payah, bapak petugas itu mengetik di mesin tik Brother seri pertama nama yang akan tercatat dalam sejarah sebagai puncak dari segala puncak keajaiban nama urang awak, mengalahkan John Travolta, menendang Lovely Son-nya Miund: ‘Don’t Worry’.

Gue menghela nafas dalam sambil membayang kekuatan mental Pak Don’t Worry yang hidup dengan nama itu empat puluh tahunan lamanya. Kagum gue. Kalo gue sih rasanya udah bakal melakukan hal yang dilakukan salah seorang Oom gue di kampung, Pak Etek Ucok: ganti nama. Gimana nggak, dia dikasih nama SAFRIANUS oleh orang tuanya, dan terbayang bukan begitu dia sekolah dan mengerti arti kata anus itu?

Sekarang, gue penasaran, kalo Pak Don’t Worry punya anak, dia kasih nama anaknya apa ya?

Mestinya ‘Be Happy’.

Thursday, November 17, 2005

CARITO MUDIAK KATIGO Lain padang, lain teong

Di Betung onderdil itu nggak ada, sementara itu gue sama abang ipar gue telepon-teleponan (Iklan: Terima kasih untuk Telkomsel yang telah memasang antena pemancar tambahan di pos polisi pengaman mudik) sehingga ketika gue memastikan bahwa barang yang dicari nggak ada di Betung, Bang Eri pun menelepon temannya di Palembang untuk membelikan onderdil itu di sana. Untung barang itu ada, namun biar bagaimana harus diambil di Palembang yang waktu tempuhnya dua jam dari Betung. Sementara hari udah semakin mendekati Maghrib dan kami semua, termasuk kedua keponakan gue yang paling besar, berpuasa.

Akhirnya, kami putusin buat istirahat sejenak dan menginap di Betung. Wono mengantarkan kami ke hotel bernama Penginapan Tetesan Embun. Lepas Maghrib dan berbuka Bang Eri pergi ke Palembang, sementara gue dan kakak gue beserta keponakan-keponakan gue istirahat di hotel. Jam setengah dua, Bang Eri balik dengan mobil udah selesai diperbaiki oleh montir.

Setelah Subuh, perjalanan dilanjutkan kembali. Gue yang nyetir—dan bikin warna kulit lengan gue jadi legam tembaga keren gitu—dan terus nyetir selama 12 jam. Dalam perjalanan, kedua keponakan gue yang paling kecil, Faiqal dan Aydin, masing-masing menanamkan sahamnya dalam upaya pelestarian hutan-hutan di hutan Sumatra Selatan dan Jambi. Ya, bila menggunakan bahasa para bocah ini, mereka teong di tengah huntan. Dan buat mereka, teong itu adalah kebutuhan saat ini yang nggak bisa ditunda. Jadi, kalo mereka minta teong ya, mo di hutan kek, jalan tol kek, ya teong aja. Kakak gue nggak terlalu suka masangin popok pakai buang sehari semalam buat anaknya, paling hanya malam hari aja. Lagian, Aydin juga nggak kelewat suka dipasangin popok kayak itu, dia suka jadi rewel.

Teong adalah kegiatan sehari-hari yang kita kerjain, tapi ada sementara orang yang—sungguh malang—nggak bisa teong secara teratur. Ada yang bermasalah dengan ‘tempat’, seperti beberapa orang teman gue yang nggak bisa teong kalo nggak di rumahnya. Atau, tempat dalam arti, kalo bukan closet duduk, nggak bisa keluar, dan sebaliknya seperti beberapa saudara gue dari kampung yang teteup ngejongkokin closet duduk ketika menginap di rumah gue. Banyak yang lebih rela menahan keinginannya untuk teong berhari-hari daripada harus teong di sembarang tempat.

Kok bisa sih? Kalo gue, seperti kedua keponakan gue tercinta, termasuk orang yang nggak pandang tempat untuk melakukan hajat yang satu ini. Apalagi mengingat pencernaan gue yang super lancar ini, teong bisa gue lakukan lebih dari dua kali sehari. Maklum gue kan rajin makan sayur dan buah di samping empal, soto betawi, gulai kambing dan kawan-kawannya (gue terpaksa memberikan penjelasan tambahan nggak perlu ini karena gue tahu bakal diserang oleh oknum tertentu yang bakal komentar, “kalo rajin teong kok masih errr ... buncit?” Huh!). Tapi mungkin kemampuan gue untuk teong di mana-mana ini tercipta karena gue udah dari kecil terbiasa untuk melakukan hajat keparat ini dalam keadaan darurat. Gimana enggak, tahun 1970-an hingga awal 1980-an, baik di rumah nenek gue di Bonjol (kampung bokap) maupun Taluk (kampung nyokap), belom ada yang namanya WC!

Di Bonjol, yang terletak di daerah perbukitan Bukit Barisan, kalo mau teong, gue harus ke kali kecil di belakang rumah, ato sekalian teong pas mandi di sungai besar yang letaknya agak jauh dari rumah. Jadi nggak mungkin dilakukan kalo kebelet. Nah, lo tahu nggak caranya teong di kali? Hayooo ... belajar, siapa tahu ntar lo mengalami keadaan darurat, jadi udah bisa, hihihi ....

Pertama kali teong di kali, gue inget kalo gue sangat kagok karena gue nggak tahan merendam errr ... maaf, pantat di dalam air yang dingin dan mengalir deras itu. Jadi gue cari batu yang agak tinggi dan jongkok di atasnya dan baru berendam untuk cebok. Tapi hal itu sangat nggak nyaman karena bentuk batu yang bulat menyebabkan arah tembakan kadang gagal mencemplung ke sasaran, yaitu air yang mengalir, sehingga beberapa serpihannya tercecer di bebatuan yang baru gue lihat belakangan ketika gue turun untuk cuci-cuci, bersih-bersih. Hueeeekkk ... sejak itu gue belajar untuk langsung berendam biar nggak meninggalkan jejak di bebatuan dan akhirnya ... sukses. Contoh bisa dilihat foto keponakan gue, Iqbal, yang kebelet waktu kita lagi dalam perjalanan ke kebon coklat bokap gue sehingga mau nggak mau mesti teong di kali.

Sementara di Taluk lain lagi ceritanya. Kampung halaman nyokap gue ini terletak di pinggir pantai. Tanahnya berpasir dan sungainya nggak mengalir deras dan bersih seperti di Bonjol. Airnya cenderung payau. Jadi sungai bukanlah tempat yang biasa dipake orang membuang hajat. Terus, gimana doooong? Errr ... yakin mau tahu? Masih tahan itu perut? Ok, gini caranya.

Mari kita kembali pada suatu masa di akhir 1970-an ketika gue masih kelas satu SD dan sedang mudik ke Taluk dan tinggal di rumah nenek, adek almarhum ayah. Pada suatu pagi yang cerah, matahari baru mengintip dari cakrawala, gue terbangun dan tiba-tiba perut gue mulas dan gue tahu gue harus teong biar itu mulas hilang. Gue bangunin Bang Eri, yang waktu itu masih oom dan belom jadi abang ipar. Bang Eri pergi ke sumur di belakang rumah diikuti gue yang jalan tertatih-tatih megangin perut menahan mulas. Dia timba air dan menuangkannya ke dalam sebuah ember. Kemudian, dia berjalan ke arah kebun di belakang rumah. Sebelumnya, dia mengambil sebilah pacul yang tersandar pada dinding dekat pintu. Di kebun, dia mencangkul tanah yang berpasir hingga kedalaman sekitar dua puluh senti, meletakkan ember di dekatnya dan menengok ke arah gue.

“Nanti panggil abang kalo udah selesai ya,” katanya.

Gue mengangguk sambil buru-buru melepas celana dan jongkok di pinggir lubang. Aaaaaahhhhh ... akhirnya. Dan setelah selesai dan cuci-cuci bersih-bersih, gue pun memanggil Bang Eri. Dia kemudian menimbun lubang itu dan membawa ember kembali ke sumur. Sebelum masuk rumah gue tengok ke arah gundukan tanah yang baru saja gue tinggalin. Gue merasa seperti seekor kucing.

Meong.