<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Terjebak

Beberapa tahun lalu, waktu gue baru mulai kerja buat sebuah organisasi kehutanan Uni Eropa yang berkantor di Manggala Wanabakti, gue punya pengalaman yang ngebetein.

Begini ceritanya … auuuuuuuu ….

Di suatu malam gelap tak berbulan, dan awan hitam menggelayuti angkasa menghadang sinar bintang-bintang, gue berdiri di luar gedung blok F kompleks Manggala yang letaknya paling belakang. Gue lagi nungguin teman gue yang mau minjemin notbuknya supaya gue bisa kerja wiken nanti nerjemahin paper-nya.

Setelah dia dateng dan notbuk berpindah tangan, gue masuk ke dalam gedung sambil nggak lupa ngomong ke satpam yang masih nunggu bahwa gue bakal balik setengah jam lagi. Waktu itu udah jam 20.00.

Gue pun naik ke ruangan gue di lantai 6 dan nyelesein beberapa kerjaan yang belom beres sambil berbenah untuk pulang. Tepat jam 20.30, gue turun dan menemukan lobi blok F kosong melompong. Nggak ada satu orang pun di sana. Gue pikir mungkin satpam yang bertugas sedang ke toilet, jadi gue jalan aja menuju pintu. Tapi ketika gue dorong, pintu itu nggak bergerak. Terkunci.

Karena gue pikir satpam hanya ke toilet, maka gue tunggu beberapa saat. Lima menit berlalu tapi nggak ada satu orang pun yang kembali ke meja penjagaan di lobi itu. Gue mulai kehilangan kesabaran.

Gue buka pintu darurat tempat para satpam itu suka tidur. Tapi tikar di lantai kosong. Gue coba naik tangga darurat yang gelap karena penerangan yang seadanya sambil berteriak, “Pak, saya mau pulang!”

Hening. Hanya suara gue bergema seolah menjawab, “mau pulang ... pulang ... pulang ....”

Sialan! Kemana sih para satpam ini? Gue pikir, daripada gue menunggu nggak jelas di lobi yang gelap itu, mending gue balik ke ruangan gue.

Sampai lantai 6, gue berjalan pelan-pelan menuju ruangan gue karena kalo udah di atas jam 6 sore, semua lampu di gedung dalam kompleks Manggala mati. Mau bilang apa, pegawai negeri emang jarang yang kerja lembur, jam empat rata-rata mereka udah pada kabur. Makanya, setiap lantai gelap gulita.

Sampe di ruangan, gue nyalain lampu meja satu-satunya yang bisa dinyalakan tanpa bergantung pada lampu sentral gedung. Terus gue coba telepon teman-teman kantor yang mungkin tahu nomor telepon pos satpam di depan. Tapi nggak ada satu pun yang angkat, semua mati. Lima belas menitan di ruangan sendirian, gue kembali keluar sambil mengutuk-ngutuk kenapa nggak ada senter di ruangan supaya gue nggak harus jalan dalam kegelapan menuju lift barang, satu-satunya lift yang hidup.

Tapi lobi masih tetap kosong. Gue semakin jengkel karena gue capek dan masih banyak kerjaan. Gue heran bagaimana mungkin dalam satu gedung sebesar ini nggak ada satu orang satpam pun yang jaga.

Kemudian, gue mendapat ide. Mungkin mereka sedang keliling setiap lantai. So, gue pun akan melakukan hal yang sama dengan harapan menemukan mereka. Gue masuk ke dalam lift dan gue pencet nomor semua lantai, 14 semuanya, dan pintupun menutup.

Di lantai kedua, pintu pun terbuka dan dengan satu tangan gue tahan pintu lift dan gue keluar dan berteriak kepada kegelapan, “Pak Satpam, ada di mana? Saya mau pulang!!!”

Tak ada jawaban. Dan di setiap lantai hingga lantai teratas, lantai tiga, empat, ... delapan, sepuluh, dua belas ... gue melakukan hal yang sama: menahan pintu lift dan meneriakkan kalimat-kalimat yang sama seperti orang gila bicara sendiri kepada kegelapan.

Hening. Nggak ada jawaban. Akhirnya, gue sadari, dalam gedung 14 lantai itu, jam setengah sepuluh malam, gue adalah satu-satunya makhluk yang masih bernafas.

Gue balik ke ruangan gue dan pasrah menunggu satpam yang datang. Sendirian di ruangan, eh nggak ding, di satu gedung 14 lantai, membuat gue teringat kisah-kisah yang diceritain teman-teman kantor gue tentang berbagai kisah ‘dunia lain’ di gedung tempat kantor gue.

Misalnya cerita seorang pejabat eselon, entah berapa, yang bunuh diri karena nggak jadi dipromosiin dengan cara melompat dari lantai dua belas. Atau cerita tentang pintu yang sering menutup sendiri di lantai 6 tempat gue bekerja. Dan cerita lain tentang suara-suara yang terdengar dari toilet.

Gue coba kerja tapi nggak konsen. Gue setel musik keras-keras supaya kalo memang ada suara-suara tanpa rupa, gue nggak bakal dengar. Sampe akhirnya... terdengar suara langkah-langkah yang makin lama semakin keras, dan... suara ketukan di pintu ruangan gue dan pintu pun terbuka, dua bayangan tampak di ujung ruangan.

“Selamat malam, Pak.”

Satpam-satpam itu akhirnya muncul. Jam 11 malam. Gue pun matiin komputer gue dan bangkit dari kursi. Gue udah terlalu capek untuk marah dan hanya bilang sambil ngelewatin mereka, “kenapa nggak datang besok pagi aja sekalian, Pak.”

Mereka hanya diam dan menunduk.

komen blogdrive!
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

»

Post a Comment