<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Peraturan nomor empat: "ANJING KAU, RIO!"


Tapi ketika Senin gue masuk kerja seperti biasa, drama itu belum selesai.

Senin pagi itu gue telat datang karena gue ngerasa berat sekali buat pergi ngantor. Gue paksain diri karena udah janji untuk tetap masuk dengan Kepala SDM. Sampe kantor ruangan ternyata kosong, yang ada cuma Ibra dan sekretaris divisi gue. Ibra manggil gue dan kita bicara. Gue bilang bahwa gue nggak mau berurusan sama Beti sampe buku gue selesai dan Ibra harus aktif jadi perantara. Gue juga bilang ke Ibra bahwa Beti nggak usah takut gue ngadu ke Bos karena gue udah nggak mood sama sekali. Gue udah mutusin untuk keluar begitu buku yang gue produksi kelar diedit dan siap naik cetak. Toh, kalo soal isi, gue lebih banyak berhubungan sama Mr Konsultan, bukan Beti. Gue bilang, sampai saat buku itu selesai, mari kita saling menganggap satu sama lain nggak ada. Ibra setuju dan bilang akan menyampaikan permintaan gue itu ke Beti.

Apa mau dikata, Beti mendadak masuk dan memanggil Ibra. Nggak lama Ibra pun memanggil gue dan kami bertiga duduk di meja rapat di pojokan ruangan. Gue dan Ibra duduk berhadapan sementara Beti di sebelah kiri gue.

Nggak lama kemudian mulailah pengadilan buat gue dengan hakim tunggal, Beti, tanpa jaksa pembela karena Ibra hanya jadi penonton setia.

"ANJING kau, Rio!" kalimat pembukaan Beti sungguh sangat indah. "Berani kau lawan aku depan semua orang! BANGSAT! Tak tahu terima kasih kau! Sudah kubela kau di depan Bos, waktu kau mau dipecat karena tak lulus masa percobaan, sampai kau dapat penyesuaian gaji paling tinggi! Ini balasan kau?! BABI kau!"

Dia nggak berhenti ngomel, "kerja kau main handphone terus! Dasar MONYET PEMALAS kau! Tak produktif!"

Tapi gue diem aja nggak ngejawab dan males ngebantah semua omongannya. Sementara Beti terus nyerocos ngamuk sambil sesekali memberi sound effect dengan memukul meja. Semua bentuk caci maki yang dia kenal, dia lontarkan ke arah gue. Gue hanya diam tanpa ekspresi.

"Kerja kau main game terus!" dia ngamuk.

Errr... okeh, gini ya. Di kantor semua anak kalo suntuk suka main game, termasuk Beti. Malah karena dia paling nggak banyak kerjaan, dia yang paling sering main game. Nah, ada satu permainan bodoh (cuma windows game biasa) yang jadi andalan kita, yang pake bola-bola gitu, lupa namanya. Semua suka mainin dan ngadu tinggi-tinggian rekor. Dulu rekor itu dipegang Beti, hihi... malu nggak sih Bos megang rekor main game, sampe gue berhasil mecahin rekor dia. Sejak itu kerjaannya nanya gimana cara gue dan nuduh gue curang, yang tentu gue jawab nggak, hihihi... padahal gue curang bener!

Cuman ketika masalah receh begini dibahas dalam sidang penuh kata mutiara itu, gue jadi jengkel sehingga mulut gue gatel dan, akhirnya, gue pun angkat bicara. Kata gue dengan santai dan pelan, "Bapak juga suka main game."

Tapi, dampak dari jawaban singkat gue itu ternyata dahsyat. Dia jadi sangat murka mendengar gue berani menjawab setelah lama diam seribu bahasa. Dia pun bangkit dari kursinya dan tangan kirinya mencengkeram leher baju gue dan memaksa gue bangkit dari duduk. Tangan kanannya mengepal dan siap meninju gue.

Gue tatap matanya menantang. Coba aja pukul, kata gue dalam hati, dengan senang hati gue bakal aduin lo ke polisi. Kalo perlu gue aduin sekalian nih perusahaan yang udah ngelanggar banyak aturan ketenagakerjaan. Ayo, pukul, pukul...

Kejadian itu mungkin hanya beberapa belas detik aja tapi rasanya seperti belasan jam berlalu. Beti akhirnya membuang mukanya dari pandangan gue, melepaskan cengekeramannya, dan menurunkan tangan kanannya. Sambil melenguh keras dia angkat kaki dan keluar dari ruangan. Ibra yang hanya bisa berdiri ternganga diam nggak sanggup berkata-kata. Demikian juga sekretaris divisi gue di ujung sana yang menyaksikan sinetron itu.

Dengan perlahan gue balik ke meja gue dan nelepon bokap. Bokap nyabarin gue untuk nggak nelepon polisi (kalo gue telepon gimana ya, hihihi...). Setelah itu gue ngadep SDM lagi dan proses itu berulang lagi. Beti dipanggil, tapi gue tahu, nggak akan ada pemecahan masalah yang berarti. Beti adalah anak emas bos.

Lantas, apa yang gue harus lakukan kalo udah gini? Drama ini cuman drama tambahan dari apa yang udah terjadi hari Sabtunya. Waktu itu gue udah ambil keputusan bertahan karena gue masih punya hutang satu buku yang sedang gue kerjain. Gue nggak pengen ninggalin begitu aja karena gue nggak tega sama yang harus ngelanjutin nanti. Tapi gue tahu, gue udah nggak sanggup bekerja di sana. Terlalu banyak ketidakadilan dan kemunafikan, gue nggak mau terkontaminasi. Rencana gue adalah untuk terus bekerja sambil mencari kerjaan lain.

Akhirnya, gue memang bertahan sambil berusaha menyelesaikan pekerjaan gue. Gue akuin gue udah males kerja, nggak kayak dulu. Sebelomnya, kalo menjelang deadline gue bisa kerja enam hari seminggu sampai larut malam, bahkan pernah nginep. Sekarang, gue kerja dengan santai dan nggak ngotot.

Hingga akhir bulan datang dan tenggat pertama pun datang. Gue gagal memenuhi deadline gue. Dummy buku gue belum selesai. Gue inget tenggat itu hari Kamis karena sehari kemudian gue menerima sepucuk surat cinta dari Beti yang isinya adalah Surat Peringatan kelalaian gue memenuhi tenggat. Dari 12 editor junior yang ada, nggak ada satupun yang bisa memenuhi deadline yang sangat ketat dan nggak masuk akal itu. Tapi hebatnya, surat cinta itu hanya dilayangkan untuk gue seorang.

That's it! Gue tahu Beti bermaksud menyingkirkan gue secara prosedural, dengan melayang tiga kali surat peringatan. Gue nggak mau diperlakukan seperti itu. Gue udah berikan janji gue ke SDM setelah peristiwa kedua bahwa gue tetap akan bertahan sampe buku gue selesai. Tapi kalo gue diperlakukan seenak udelnya kayak gini, gue nggak merasa perlu memenuhi janji gue lagi.

Hari Sabtu gue buat surat ke bos dengan tembusan ke SDM dan Beti yang menyatakan gue mengundurkan diri. Gue udah nggak peduli dengan buku yang setengah jalan itu. Gue nggak mau ambil pusing editor lain ribet ngerjain buku itu. Gue cuek kalo harus nganggur dulu. Gue nggak masalah sama bonus dan pesangon yang nggak gue terima dari penjualan buku. Gue nggak bakalan jatuh miskin cuma gara-gara duit yang nggak seberapa.

Yang penting gue merdeka.
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

4:55 PM

hm... nama penerbitnya ER****GA yaks? gw kerja disitu sekarang. dan sepertinya gw kena jebakan batman dgn si bapak beti. btw, setiap sabtu program aerobiknya masih ada lho. hehehe...    



»

Post a Comment