<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Peraturan nomor satu: Bos selalu benar


Gue mulai karir di dunia penerbitan udah rada telat. Setelah bolak-balik kerja nggak jelas, gue baru nemuin pekerjaan yang gue banget ketika diterima sebagai editor di salah satu penerbit buku-buku pendidikan terbesar di Indonesia. Dan nggak aneh kalo gue sangat menikmati kerjaan gue secara gue emang kutu buku dan sebenernya sangat suka menulis.

Tapi, Tuhan emang Adil banget yah—walau kalo lagi bete kita sering mempertanyakan keadilan-Nya. Kerjaan udah asyik, temen kerja cihuy, eh, dapet bos nggilani. Beti, panggilan dia, dan ini emang beneran panggilan kita para editor junior ke bos kita itu kalo lagi ngomongin dia, emang sangat luar biasa uedan tenan—harus diucapkan dengan nada penuh kejengkelan dan kejutekan. Beti itu asalnya dari pelesetan singkatan namanya, dan percaya deh, biar Mas Wisa yang paling jago bikin pelesetan juga nggak bakalan nemuin pelesetan yang lebih top markotop daripada Beti.

Okeh, mari kita bahas beberapa aksi nggilani dia. Jangan semua ya, capek nulisnya.

Mari kita mulai pada kejadian di satu pagi yang sejuk, saat tanah yang dibasahi hujan semalam mulai mengering di kehangatan mentari pagi. Dari kejauhan Pasar Klender, tampak seorang laki-laki muda yang imyut sedang berlari-lari kecil mengejar bis jurusan Kampung Rambutan. Sungguh dia masih muda, usianya belum lagi kepala tiga, walau tak berarti kepala tiga sudah tua ya. Namun sayang sunggung sayang, karena terburu-buru berangkat bekerja, dia belum lagi sarapan pagi. Oh sungguh kasihan perutnya keroncongan. (Padahal sarapan pagi kan paling penting ya?)

Maka sebelum memulai pekerjaannya, ia pun membeli sarapan ala kadarnya, di warung nasi depan kantornya. Dan di atas meja kerjanya yang luas itu, dia pun menikmati menu pagi harinya. Nasi uduk dan telor pindang dengan sejumput sambal dan lalap timun. Ah, nikmat rasanya. Ia tidak sendirian, banyak teman-temannya yang sedang menikmati sarapan di meja masing-masing.

Tiba-tiba, seorang pria berusia empat puluh tahun berkumis tipis hiasan tapi sumpah tidak menjadikannya tampan rupawan (makanya jangan mau ketipu lagu), masuk ke dalam ruangan dan dengan wajah menyeringis menahan miris karena gigi menggigis, ia layangkan pandangan ke arah anak buahnya yang sedang asyik sarapan dan langsung menggeram, "Apa-apaan ini kalian sarapan di atas meja kantor! Kotor nanti! Lagian, ini sudah jam kerja, kalau mau sarapan di rumah saja kau!"

Suaranya menggelegar memenuhi sudut-sudut ruangan editor yang luas tanpa sekat itu. Sarapan cowok kiyut tadi tak lagi nikmat, walaupun tetap dihabiskan secara ia selalu ingat pesan mamanya untuk tidak menyisakan makanan. Dan esok harinya, kami semua menerima memo yang berbunyi "DILARANG SARAPAN DI DALAM RUANG KANTOR DAN JAM KERJA."

Ada satu kejadian lain ketika si cowok imyut tadi telah bekerja sekitar satu bulan di tempat barunya itu. Memang, harus diakui, di antara semua teman kerjanya yang masih junior, dia adalah penerima sms paling banyak. Tapi, belum pernah ada yang protes karena si kiyut itu banyak menerima sms dari para penggemarnya. Namanya juga cowok kiyut, wajar kan. *kedip-kedip sambil mbawain ember buat yang udah mual-mual (makanya pake ko*^%m dong)*

Hingga satu senja yang jingga, saat awan hitam menari-nari di angkasa, dan rembulan mengintip tak sabaran, si kiyut tadi dipanggil sang atasan yang berkumis tipis tak rupawan, penuh uban, wajah penuh beban, dengan kostum tak pernah sepadan, ke meja tempat para editor biasa urug rembug membantai setiap naskah yang masuk. Dengan perasaan tak menentu, tak tentu laku, cowok lugu berbaju biru itu, duduk di muka sang prabu, berwajah babu, yang tanpa ba bi bu, berkata "Rio, aku tak suka kau main sms di jam kantor. Itu mengganggu jadwal kerja kau."

Si imyut, yang ternyata bernama Rio itu, menatap tak percaya, dengan pandangan (seolah) tanpa dosa (Doel, IPOD, teteup) seperti tatapan Buna memandang ibunya, hanya mampu tergaga, "baik, Pak," suaranya pelan menjawab.

Waktu berlalu, bulan berganti, Rio semakin menikmati pekerjaannya dan membenci bosnya. Dia sangat menikmati ketika diberi perintah dan wewenang untuk berhubungan dengan semua penerbit dan perguruan tinggi di luar negeri. Walaupun dia heran karena seharusnya urusan itu kan urusan atasannya. Belakangan baru dia tahu, bahasa Inggris atasannya itu ternyata, *errrrr... errr.... aduuuhhh... boleh ya nyela, plissss... gatel nih...* bego! Aduh, leganya.

Ya, bagaimanakah caranya Rio mengetahui bahwa bosnya ternyata memiliki kekurangan dalam bahasa Inggris? Begini ceritanya, pada suatu siang yang terik, ketika kumbang tak lagi mengerik, bersembunyi di balik bilik, dari sengatan mentari yang mencekik, Rio terheran-heran ketika draft surat yang kesejuta kalinya dia buat hampir tidak pernah diperbaiki seolah-olah sudah baik dan benar. Dan sesekali ketika perbaikan dilakukan, lah, errrrrrr... errrrrrr... kan salah grammar-nya (Noval pasti cinta banget deh secara dia polisi bahasa getoh)! Pantesan dia nggak pede korespondensi sama penerbit luar negeri, pikirnya.

Dan satu hal lagi yang baru ia ketahui tentang bosnya sehubungan dengan korespondensi itu. Beti ternyata... gaptek! Nggak pernah berhubungan dengan imel! Jangan-jangan nggak bisa buka imel. Rio menengarai hal ini sewaktu pertama kali ia harus berhubungan dengan penerbit luar negeri. Beti memberi perintah bahwa surat harus dikirim lewat faks, walaupun dengan alasan logis, penghematan, Rio memberi usul untuk mengirimkannya melalui imel. Tapi nehi! Berpuluh-puluh faks Rio kirimkan ke seluruh dunia,dari Amerika hingga Australia, dengan tak lupa, mencantumkan alamat imelnya. Entah berapa sudah biaya. Tapi apa jadinya? Dia berkata, sambil menahan tawa, ketika memberi tahu Beti atasannya, bahwa jawaban sudah ia terima, dari berbagai penerbit dunia, melalui... ya! Imel, sodara-sodara! (Hari gini getoh lho, nggak punya imel, gaptek banget sih lo:P!)

Kembali terjadi, di satu siang yang panas Beti kelabakan mencari si Rio dan menyuruhnya menelepon sebuah perguruan tinggi di Australia untuk satu urusan. Errrr... setelah mendengar apa yang harus dilakukan, Rio bertambah heran. Busyet, itu kan perintah Bos di rapat beberapa waktu yang lalu ke dia, kok belom dikerjain? Dan kenapa gue yang mesti menelepon ya, kan dia bisa nelepon sendiri? Tapi yah, sudahlah, sebagai karyawan yang baik Rio menikmati wewenang baru itu yang sesungguhnyalah sangat sesuai dengan kesenangannya.

Sebagai banceh ring-ring sejati, jari-jemarinya sangatlah luwes, menari-nari di tuts telepon, menekan nomor yang panjang, memberinya kenikmatan yang tak terkira, ngobrol di telepon pula, siapa yang tak suka? Bukan gue ini yang bayar, pikirnya. Lumayan, buat latihan ngomong Inggris kan? Walaupun akibat hobinya bicara, dengan teman-temannya, di telepon ruma(h) *errr... maaf ya, kalo pake 'h" jadi ngganggu rima getoh lho*, sehingga pernah membuat tagihannya, membengkak luar biasa. (Jumlahnya? Errr... want to knooooow aja! Lo mau bayarin? *sambil dengan jutek melototin yang nanya*)

Ternyata, jawaban mengapa Beti menunda, semua teleponnya, ke seluruh dunia, ditemukan ketika untuk pertama, Rio harus berjumpa, dengan konsultan bahasa Inggrisnya. Ditemani Beti Bos Slebor itu ke rumah sang konsultan yang luas dan nyaman di suatu daerah di selatan Jakarta. Beti pun bicara, blablabla, sementara Rio dan Mr Konsultan yang bule Inggris itu memandang takjub tanpa memahami apa yang dia maksud. Dan ketika Mr Konsultan bilang dia tak paham, Beti memandang ke arah Rio yang sama clueless-nya dengan Mr Bule itu. Beti pun menjelaskan apa maksudnya kepada Rio, dalam bahasa Indonesia tentunya, dan selanjutnya Rio mencoba menjelaskan kepada Mr Bule.

Sejak saat itu, Beti tak pernah ikut setiap Rio harus bertemu Mr Konsultan untuk berbagai urusan. Dia hanya menyampaikan pesan dan maksudnya ke Rio. Selebihnya, terserah si Imyut itu lah mau bilang apa.

Sungguh aneh tapi nyata, kok yang kayak begini bisa jadi kepala editor sih?
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

4:06 AM

Pake suap tuh.... banyak kok bos2 yang kerja di perushaan yang bagus dan berstandar luar tapi gaptek...

mungkin karna prushaan punya ngkong dia atau masuk keperusahaan karna korupsi... ups.. kayak masuk pn aja..    



»

Post a Comment