<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Begini caranya makan pisang

PERINGATAN BUAT YANG DI BAWAH UMUR: Maaf yaaa… cerita ini emang bakal bisa diartiin macem-macem. Gue udah diomelin gara-gara nggak ngasih kategori R-rated (gila ya, ini mah belom sampe X getoh lho) sampe Zubia dan Buna ikutan baca, hehe… Yang merasa udah gede, yuk yak yuuk…

Di satu Jumat malam yang cerah, gue memutuskan untuk pergi ke warung internet bareng Kenny selesai kita les Bahasa Prancis di CCF. Kebetulan gue pengen ngaplod tulisan di blog – gue lupa tentang apa – yang nggak sempat gue aplod di kantor.

CCF Wijaya lokasinya sangat dekat dengan sebuah warnet yang, sejak gue tahu tempatnya, gue rekomendasiin ke semua teman gue yang suka nyatronin warnet 24 jam. Namanya Warnet Harry’s. Letaknya di ujung Jalan Wijaya I, pas di perempatan dengan Jalan Iskandarsyah dan Prapanca.

Gimana gue nggak cinta abis sama warnet yang satu ini. Udah cuman bayar lima ribu satu jam, pake webcam pula, dan... ini yang amat sangat penting buat gue, mereka nyediain KOPI all you can drink sampe mabok kopian GRATIS! Kadang, mereka juga nyediain snack berbagai rupa, dari keripik singkong sampe kentang, masih gratis juga! AC-nya juga dingin, dan ruangan untuk mereka yang pengen bunuh diri pelan-pelan (maaf ya, Pe:P) pake asap dan mereka yang nggak suka ngasap dipisah!

Oh, indahnya hidup ini kalau semua warnet seperti ini, bukan? Karena itu, demi kemaslahatan para insomniawan (kayak Benny), para jombloers (kayak Benny juga), pengobrol dan pelihat-lihat maya (masih kayak Benny), gue pun sampaikan kabar suka cita ini! Telah hadir warnet yang paling tepat untuk kita semua! Juru selamat kantong tanpa mati gaya telah datang!

Coba, mari berhitung kalo mau pake internet tengah malam di Starbucks Thamrin, misalnya. Mereka nge-charge 40 ribu untuk setengah jam (Rese! Mangkenye gue nggak pernah mau, di samping notebook gue emang nggak ada wi-fi-nya, hihihi...), ditambah coffee of the day yang tall (pilihan murah meriah enak) yang harganya 16500 perak, et voila! 56500 habis cuman buat setengah jam internetan! Nehi Babu-ji (baca: gue belom cukup kaya)!

Cuman sebelnya, yang berpikiran sama seperti gue dan Kenny untuk menghabiskan Jumat malam mereka di Harry’s ternyata banyak. Kedua ruangan yang isinya masing-masing sekitar 14 komputer penuh! Akhirnya kami mutusin untuk menunggu di ruangan yang bebas rokok.

Sementara Kenny sibuk sendiri, gue pelototin orang-orang yang sedang pake internet, kali-kali aja ada yang bakal selesai. Btw, satu hal yang nggak kalah penting dan menyenangkan kalau memakai internet di Harry’s adalah privacy yang terjaga. Setiap dua komputer berada dalam satu cubicle yang tertutup. Masing-masing nggak bisa ngelihatin apa yang dilakukan oleh orang di sebelahnya. Namun karena jumlahnya yang ganjil di setiap baris, khusus di pojok terdekat ruang tunggu, ada dua komputer di tiap baris yang memperlihatkan pemakainya.

Dan kebetulan, kedua komputer itu dikuasai oleh dua orang perempuan berusia sekitar 30-an. Dari tempat gue duduk, pandangan gue paling jelas melihat ke arah seorang Cici, gue curigesyen dia keturunan Tionghoa, yang bertubuh lumayan tambun dengan rambut sepunggung dan ikal berwarna kecoklatan. Gue lihat dia asyik ketak-ketik kibord sambil cekikikan memandang ke arah webcam yang terletak persis di atas monitor komputer. Gue asumsiin dia pasti ceting.

Gue bilang ke Kenny, “gila ya warnet ini kalo wiken, isinya ajang cari jodoh banget deh!”

Kenny mengiyakan komentar gue, “Ngarep apa lagi lo?”

Iya sih, cuman kalo semua pada ceting, bisa lama dong. Lah, giliran gue kapan? Padahal sumpeh lo, gue nggak pengen ceting sama sekali. Cuman ngaplod, udah. Sementara Kenny juga cuman perlu ngirim imel (waktu itu dia belum punya Ibook gaya kebanggaannya yang bikin gue siriq setengah mampus itu yaaa...). Malas berlama-lama, akhirnya kami putuskan untuk menunggu selama sepuluh menit lagi.

Gue dan Kenny kembali sibuk sendiri-sendiri. Sementara gue asyik ngelihatin para perempuan itu, Kenny membaca. Tiba-tiba si Cici Tambun tadi membungkukkan badannya sambil menjulurkan tangannya ke arah lantai. Ternyata dia mengambil pisang ambon dari tasnya. Mendadak, gue berasa ikutan lapar, maklum kalo udah lihat makanan gue selalu ngeces.

Tapi si Cici ini kemudian melakukan tindakan yang membuat gue nganga selebar-lebarnya dan ngeces beneran. Kali ini bukan karena lapar tapi karena terlalu terperangah. Gimana nggak?! Pisang di tangannya itu dia arahkan ke webcam sambil tersenyum centil. Lalu dengan perlahan, satu demi satu kulit pisang itu dia buka sehingga tinggal batang buahnya yang putih berdiri menantang, tegak dan keras, sambil terus dia acungkan ke arah webcam.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari webcam, Cici Tambun menjilat batang ranum itu perlahan-lahan sambil memejamkan matanya. Ketika lidahnya berhenti di ujungnya yang lancip, tiba-tiba mulutnya membuka lebar dan batang yang putih itu ia masukkan ke dalamnya. Batang pisang yang telah telanjang dari kulitnya itu dia masukkan jauh ke dalam mulutnya. Gila nih perempuan, tenggorokannya panjang juga ya. Tapi, nggak eneg apa?

Ketika dengan perlahan dia menarik pisang itu dari dalam mulutnya, gue pikir pisang itu udah habis dia makan, tapi tidak! Sekali-kali tidak! Pisang itu masih utuh! Putih dan menjulang. Dan sambil terus memandang ke arah webcam dengan tatapan mata yang menggoda, dia masukkan lagi batang putih itu ke dalam mulutnya. Perlahan ia pun menghilang dan menyesaki ruangan mulutnya.

Tiba-tiba tangannya menyentakkan batang itu ke atas dan ketika batang itu dikeluarkan, ujungnya yang lancip sudah rata! Aaaahhh... lega gue, akhirnya pisang itu dimakannya! Gue ngeces lagi. Kali ini gue beneran lapar.

Setelah tersentak dari rasa kaget, gue langsung memukul tangan Kenny sambil berbisik, “Ken, lihat cewek itu makan pisang deh!”

Tanpa sadar sedang diperhatikan oleh gue dan Kenny, Cici Tambun itu kembali memasukkan pisangnya ke dalam mulut sambil mengarahkannya ke webcam dan tersenyum genit dengan mata mengerling penuh arti kepada siapapun yang ada di ujung sana. Batang putih yang telah terpapas itu ia masukkan lagi ke dalam mulutnya sambil tetap memandang ke arah webcam dengan penuh arti.

Gue dan Kenny terlalu syok melihat live show tersebut sehingga kami saling bertatapan dan seolah-olah membaca pikiran masing-masing dan berkata, “pulang yuk.”

Dan gue belom pernah makan pisang lagi sejak saat itu.

Tapi siapa sih yg gak suka pisang? Walaupun di luar sana masih saja ada penyuka pisang in denial - yg menikmati pisang secara diam2, seolah2 makan pisang adalah dosa - komen2 ini membuktikan antusiasme para banana mania terhadap pisang tak pernah lekang! Masih di Blogdrive.
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

»

Post a Comment