Thursday, November 10, 2005

CARITO MUDIAK PATAMO Ada apa dengan orang tua?


Semua orang pasti tahu siapa itu Peter Pan. Gue mungkin termasuk orang yang telat kenal dengan makhluk yang bernama Peter Pan itu. Gue tahu lagu-lagunya justru karena kebanyakan ngedengerin pengamen di Menteng yang silih berganti nyanyiin lagu-lagu mereka. Gue baru tahu namanya Peter Pan ketika mereka udah berhasil ngejual lebih dari sejuta kopi album rekamannya. Bahkan, sampe sekarang gue belom pernah lihat video klip hit terbesar mereka, “Ada Apa Denganmu?”

Telat ya? Gue tahu. Dan gue sadari betapa gue super telat menyadari kehadiran grup ini ketika di satu malam minggu di Kafe Pisa, Menteng, ketika gue lagi asyik makan dan ngobrol di acara ulang tahun teman gue, tiba-tiba penyanyi home band-nya Kafe Pisa ngebacain permintaan lagu “Ada Apa Denganmu?” dan menyapa orang meminta lagu itu. Yang ada, gue terkaget-kaget ketika ngelihat siapa yang minta lagu itu!

Beberapa orang bocah!

Dan ketika akhirnya lagu itu dinyanyiin, seorang bocah perempuan tanpa malu-malu langsung naik panggung—gue rasa pasti pernah ikut kursus presenter-nya Dewi Hughes buat bocah yang lagi ngetren itu—dan nyanyi sambil goyang-goyang pinggul ala Inul! Satu orang penyanyi dengan bodohnya memberikan mikrofonnya kepada seorang bocah cowok yang berdiri dekat panggung dan menatap panggung sambil ngiler sehingga akhirnya dia dibiarkan menyanyikan sisa lagu “What’s wrong with you?” itu sampe selesai! Tanpa salah dengan suara fals nggak karuan.

Bodoh kan? Gue rasanya mau ngerebut mike dari bocah itu dan njitak penyanyinya sambil bilang, “Coba yaaa ... Ini kafe, bukan TK deh!”

Gue nggak pernah berharap masuk kafe dan mendengar suara fals bocah nyanyi lagu dewasa dan mengganggu kenikmatan gue hang out. Apa ini kafe udah berubah jadi night care center buat ngasuh para bocah yang orang tuanya kerja malam? Ketika gue lihat dengan siapa pada bocah itu datang, ternyata mereka datang dengan orang tua mereka sendiri yang asyik ngobrol sesama mereka.

Woiii... nyadar dong! Ngapain lo bawa anak ke kafe tengah malam? Begini ya, kafe itu bukan Dufan ato Taman Safari. Jangan dianggap tempat piknik deh! Jadi, kalo lo nggak bisa nemuin pengasuh yang bisa ngejagain mereka ketika lo mau gaul sampe malam ... ya, jangan pergi! Apalagi di malam minggu yang jelas banget tujuan lo cuman buat senang-senang doang! Dan gue pikir, bukankah menghabiskan waktu bersama anak lo seharusnya membuat lo lebih bahagia daripada nongkrong di kafe bareng temen-temen lo? Heran gue.

Dan jangan nganggap bahwa bawa anak ke kafe itu sebagai ide cerdas buat nunjukin tanggung jawab lo sebagai orang tua yang nggak tega ninggalin anaknya tanpa pengawasan ya. Otak udang! Buat gue, itu cuma nunjukin keegoisan dan kebebalan lo serta rendahnya tanggung jawab lo sebagai orang tua! Maksudnya apa? Sementara lo asyik ngobrol anak lo bakal belajar: oom itu minum apa sih, kok kayaknya abis minum ketawa-tawa melulu, aku abis minum susu kok biasa aja ya; wah tante penyanyinya kayak nggak pake baju, ya; lho, oom sama tante itu kok ciumannya di bibir ya, emang enak? jadi pengen tahu. Sementara itu, lo terus asyik ngobrol sama temen-temen lo.

Gue jadi emosi jiwa.

Ngelihat ada orang tua bawa anaknya ke kafe sama bikin jengkelnya kayak lihat orang tua yang bawa anaknya buat nonton film ‘Flight Plan’ dan semua film dewasa lain. Dan ketika anaknya ketakutan baru mereka—atau baby sitter-nya—keluar di tengah film. Tolol! Untung lo nggak dekat-dekat gue ya, kalo nggak, gue bakal siram coca cola begitu anak lo buka mulut bertanya soal jalan cerita film. Bukan anak lo, tapi lo, bego! Kalo nggak bisa ninggalin anak di rumah sendiri, ajak anak lo pergi ke ITC Kuningan, beli DVD sambil belanja di Carrefour, trus nonton tuh film tengah malam waktu anak lo udah tidur! Jangan ke bioskop! Ganggu orang, tahu!

Dan balik ke Kafe Pisa di malam itu, ketika lagu sejuta umat itu kelar dinyanyiin anak-anak mereka, para orang tua itu memberikan tepuk tangan dengan wajah bangga. Bangga atas keberanian anak-anak mereka beraksi di depan umum. Dan ketika kebanyakan orang satu kafe ikut bertepuk tangan, gue jadi merasa terasing. Ini gue yang aneh, ato mereka yang gila sih. Gue nggak ngerasa hal seperti itu layak diberi dukungan. Berani nyanyiin lagu orang dewasa di sebuah kafe bukan jenis keberhasilan yang bakal bikin gue bangga kalo keponakan gue bisa lakukan.

Tapi gue tergigit lidah ketika hari Senin di malam kedua puluh sembilan Ramadhan, ketika abang ipar gue mulai menjalankan mobilnya memulai perjalanan panjang ke Bonjol, Faiqal, keponakan gue yang baru berumur 3,5 tahun itu minta gue yang duduk di depan buat muterin kaset Peter Pan. Hah? Nggak salah? Dan ketika dia bisa ngikutin lirik lagu-lagu Peter Pan, dengan ditingkahi oleh Aydin, adiknya yang baru berusia dua tahun, yang meneriakkan ujung kalimat, “... SURGAAAA!”, gue cuma bisa ngelus-ngelus dada. Gue nggak bisa ngelarang, apalagi marah.

Ternyata, anak sekarang ternyata emang kekurangan hiburan yang sesuai umur mereka dan banyak orang tua yang ambil jalan pintas—mungkin karena sedikitnya pilihan—untuk membiarkan anaknya menikmati hiburan yang dewasa. Di lain pihak, Chicha sama Adi udah punya anak seumuran keponakan gue. Joshua udah berjakun biar teteup medok, sementara Sherina sekarang udah masuk pengawasan Neng Sarah sama Mpok Jane! Maklum, ABG, udah mulai salah kostum. Bocah sekarang emang nggak punya penyanyi idola baru. Tina Toon? Oh plisss ... Walau gue sangat mengagumi kelenturan bocah gembil ini, tapi yaaaa ...lagunya yang ngetop apaan sih? Biar nggak senyebelin Maissy ... tapi gayanya? Ampuuunnn ...

Dalam perjalanan ke Bonjol, gue terus disiksa oleh suara sengau Ariel selama Faiqal dan Aydin masih melek. Gue cuma bisa terbebas dari kemonotonan lagu-lagu Peter Pan kalo bocah-bocah itu udah tidur. Kalo nggak, kaset itu terus diputar dan nggak ada yang bisa matiin karena risikonya adalah amukan Faiqal dan Aydin. Dan nggak ada orang waras yang mau ambil risiko keponakan gue itu ngamuk menjerit dan memukul di dalam mobil yang penuh barang dalam perjalanan melelahkan selama hampir 40 jam ke kampung halaman.

Dan sekitar pukul 15.30 esok harinya, Selasa, ketika keponakan-keponakan gue asyik nyanyiin lagu-lagunya Peter Pan untuk yang entah untuk ke berapa kali, gue sibuk mengemudikan mobil melintasi daerah persawangan Sungai Lilin, Sumatra Selatan, melewati lubang-lubang besar dan kecil jalan yang seperti ranjau bikin gue harus zig zag melewati jalan lintas timur Sumatra yang turun naik seperti roller coaster dan bikin nyetir jadi penuh tantangan.

Di tengah keriwehan itu semua, mendadak, ketika gue menginjak rem untuk mengurangi kecepatan di jalan turunan, rem itu nggak berfungsi, nggak ada tekanan apa-apa. Sementara mobil gue terus melaju kencang tak terhentikan. Gue coba seimbangkan kecepatan mobil dengan menginjak kopling setengah dan membanting setir ke kiri dan kanan menghindari lubang-lubang jalanan yang menghadang. Dengan kecepatan tinggi mobil gue kemudian naik mendaki jalan dan dari arah depan sebuah truk melaju kencang menuruni jalan. Gue banting setir ke pinggir jalan yang tak beraspal, sambil berteriak ke abang ipar gue yang tidur di bangku belakang:

“Bang! Remnya blong!”

Monday, October 31, 2005

Mudik juga

Delapan jam lagi dan gue akan meluncur ke kampong halaman orang tua gue yang sekarang, mau nggak mau, sejak orang tua gue mutusin jadi petani di kampung halamannya, mudik setiap Lebaran jadi acara wajib yang dulu, waktu mereka masih kerja di Jakarta, belom tentu dilakonin tiap tahun. Dan tahun ini, biar udah coba dirayu, Bokap nggak bisa ninggalin rumahnya dengan alasan gudang coklatnya lagi penuh. Nyokap yah seperti biasa tinggal manut bokap. Sementara gue yang dari awal puasa pengen balik naik pesawat terpaksa ngebatalin niat secara kakak ipar gue tercinta memutuskan buat balik naik mobil. Satu-satunya harapan adalah bila gue dan kakak gue sukses ngerayu bokap dan nyokap buat Lebaran di Jakarta aja. Setelah itu gagal, harapan tinggal kakak ipar gue ngebatalin rencana pergi dan gue bisa langsung cari tiket pesawat untuk pergi sendiri.

Tapi, hari Kamis minggu lalu, jam setengah tujuh pagi, hape gue bunyi dan ketika gue angkat terdengar suara kakak gue yang bilang, “Kita jadi berangkat hari Senin malam ya.”

“Hah?” gue masih ngelindur. “Oh, oke.”

Dan malam ini gue kembali bakal menempuh perjalanan ke Bonjol buat nemuin orang tua gue. Kali ini, adek gue Uly dan isterinya Dias, yang baru dapet momongan baru, nggak ikut. Sementara si Bontot Iky dan isterinya Ratna, juga nggak ikut karena mereka emang biasanya jaga gawang. Jadi yang berangkat adalah keluarga kakak gue: kakak ipar gue, Bang Eri, kakak gue, Rini dan empat bocah laki-laki, anak-anaknya yang lasak bin nggak bisa diam itu, Fauzan (11), Iqbal (9,5), Faiqal (3), dan Aydin (1,5), dan gue.

40 jam penuh tangisan, rengekan, bebauan tujuh rupa, tapi juga tawa, canda, peluk, cium.

Minal aidin wal faidzin, taqaballahu mina wa minkum.