<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d11556135\x26blogName\x3dfor+a+moment\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://guario.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://guario.blogspot.com/\x26vt\x3d8883002381500247543', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Bhinneka Susah Caranya


Kemaren ini, temen kuliah gue, Debbie, yang baru pindah ke Washington DC ngikutin suami bulenya yang pindah kerja di sana, ngirim email ke milis angkatan gue tentang ’perdebatan’ dia dengan kenalan barunya di DC. Sebelom lo lanjutin baca tulisan ini, baca deh tulisan Debbie di blog-nya yang masih sangat anyar biar bisa dapat latar belakangnya. Ketika gue mulai menulis komentar gue, nggak terasa tulisan gue udah kepanjangan hingga akhirnya gue putusin untuk memuat komentar ini di blog gue sendiri, sekalian meng-update blog yang udah lama mati suri ini, hehe...

So, Deb, ini pendapat gue:

Deb, knowing you, gue tahu lo cuman ngekspresiin apa yang lo rasa dan apa yang lo bilang bener banget. Gue ngaminin semua perkataan lo. Nggak seharusnya kita ikut tertawa ketika kita melihat ketidakadilan diskriminatif opresif terjadi di sekeliling kita. Dan perempuan yang dipelorotin kembennya secara sengaja itu merupakan wujud ketidakadilan akibat kecenderungan sikap opresi dan diskriminasi yang banyak dialami perempuan di manapun di dunia ini. Tapi gue nggak mau buka polemik soal feminisme karena bisa panjang dan nggak ketahuan juntrungan:D. Gue cuma mau lihat masalah ini dari sisi lain, yaitu CARA nyampeinnya.

Gue SANGAT SETUJU kalo cewek itu nggak seharusnya dan bersalah dengan ikut tertawa dan nyebarin gambar itu kemana-mana dengan label yang nggak banget, "afternoon humor, lucu nih..." It's so insensitive, dan mengingat itu dikirim oleh perempuan bikin masalah ketidaksensitivan itu jadi tambah nggak masuk akal. Lo perempuan gitu lho, kok malah lo yang nyebarin gambar yang jelas-jelas merendahkan perempuan? Kalo lo yang dipelorotin dan seluruh dunia saling mem-forward gambar itu, apakah lo bisa ikut tertawa bersama semua orang dari Timbuktu sampe Honolulu? Gue yakin nggak.

Cuma Deb, kadang buat bikin orang nyadar bahwa tindakan dia salah, cara kita ngingetin dan ngasih tahu bisa berarti banyak buat bikin orang menerima atau menolak pendapat kita. Gue pernah nerima beberapa foto lewat email yang dikirim sama temen gue yang isinya adalah gambar beberapa perempuan pake jilbab yang berani, maaf, telanjang. Gambar-gambar ini meraja-lela waktu kasus video Lombok Membara yang isinya ngesyut secara diam-diam cewek berjilbab ML di pinggir kali sama cowoknya. Setelah itu muncul gambar-gambar cewek berjilbab yang lagi, maaf lagi, telanjang dan berhubungan seksual. Dan JAHATNYA, ya itu tadi, beberapa jelas banget berupa REKAYASA. Sisanya gue nggak bisa yakin, apa emang bener cewek berjilbab beneran yang lagi gendeng sampe mau difoto kayak gitu ato malah cewek yang pake jilbab buat mendiskreditkan atau fotomodel porno yang sengaja pake jilbab buat menuhin fantasi gila-gilaan orang yang berhasrat seksual terhadap cewek berjilbab seperti sebagian orang yang berhasrat seksual terhadap pastur ato biarawati. Susah emang, ada pasar ada barang.

Akhirnya gue bilang ke teman gue begini, ini copy paste email gue:

From: Rio bilang
Mailed-By: gmail.com
To: A
Date: Jun 8, 2006 2:32 PM
Subject: Re: FW: Cewek Jilbab - ckckckck

A,

Gambar2nya kebanyakan rekayasa dan kamu ngebantu nyebarin gambar dari orang yang belum tentu salah.

Kasihan kan:(. Aku nggak tega lihatnya.


Dan dijawab:

From: A < x@y.z>
To: Rio bilang
Date: Jun 8, 2006 3:04 PM
Subject: RE: FW: Cewek Jilbab - ckckckck

Maap ya.

Aku gak liat semuanya.

Maap banget, yang aku liat cuma satu dan itu ada org jilbaban lagi pegang itu cowoknya.


Reaksi teman gue yang menerima keberatan gue dengan baik, tanpa sikap defensif sama sekali, bisa jadi karena dia teman gue. Sementara lo ngelempar kejengkelan lo ke milis yang isinya bukan (belum) bisa dianggap temen lo semua, baru sekumpulan kenalan baru. Akibatnya, ribut.

Gue ngerti banget kalo lo jengkel karena reaksi perempuan yang ngirim video itu kelewat DEFENSIF dan buntut-buntutnya malah ngamuk ketika lo kasih argumen balik. Tapi menurut gue, orang Indonesia, bodo amat udah lama ato nggak tinggal luar, belom tentu punya semangat demokrasi yang bisa dan biasa diajak bertukar pikiran dengan bebas dengan bahasa yang intelek. Balasan dia yang penuh kata mutiara itu jelas nunjukin she's that kind of Indonesian. Orang kita belom pinter berpolemik, berbeda pendapat jadi haram, karena berbeda dianggap aneh dan harus dibasmi. Ironis ya, padahal dari kecil kita dinina-bobo-in sama semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Nggak ngaruh kayaknya.

Gue juga yakin lo pasti gatel pengen bilang bahwa sebenarnya ini nggak boleh jadi alasan pembenaran. Lagi-lagi, gue setuju;). Mengutarakan pendapat lo, ketidakpuasan lo terhadap apa yang tidak seharusnya terjadi, seharusnya teteup kudu dan harus bisa lo sampein ke yang bersangkutan. Apalagi kalo orang yang lo ajak ‘debat’ adalah orang yang berpendidikan tinggi, tambah wajib banget buat disampein dan diingetin. Gila aja, udah sekolah tinggi-tinggi kok lo masih nggak terbiasa dan nggak bisa berbeda pendapat ato ngutarain pendapat lo dengan bahasa yang terdidik dan argumen yang kritis, dan sebaliknya, masih menganggap KRITIK dan SARAN itu sebagai bentuk serangan terhadap harga diri. Grow up people.

Tapi, kalo belajar dari pengalaman gue terakhir, sometimes, in dealing with Indonesians – in my case, a freshly imported Javanese with consequently Javanese culture upbringing;) – even the highly educated ones, one has to really consider the approach to be used in expressing differences with other party. You can't achieve your goal by being offensive. My experience further proves that intelligent has little to do with empathy and emotional maturity. Different ways of expressing and channeling your discontent towards the ignorance shown by people around you will generate different responses. And you can't change people's mindset in a day or two. It takes time.

So, be patient dear Debbie;), Rome is not built in a day.
« Home | Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »
| Next »

1:39 PM

akhirnyaaaa... nulis juga lu yo.
indak sio-sio ambo menanti. *bhinneka mode* :P

btw, setuju sama pendapat rio.    



3:58 PM

PENG huehue... Jin Padang lo ya:P? Tarimo kasih jo panantiannyo:). Samoga ambo dapek rajin manulih kambali.

Oke deh, dapet satu suara, tengkyuuu...    



4:17 PM

bok,

bisa jadi ibu muda yang kekeuh dan marah2 di milis itu istri seorang bule kemang yang dibawa ke Washington DC.
dulunya cewe itu MUNGKIN nggak "berotak", tapi karena modal kulit tan dan tampang pembokat (eh ini fakta yaaa kalo bule di Indo suka banget ama tampang pembokat, asal bisa muasin, cukup dah!) dia akhirnya "naik kelas" jadi istri seorang bule yang punya intelegensi jauuuh diatas dia..

nah pas di bawa ke Washington DC, suaminya ngenalin internet dan akhirnya dia gabung ama tuh milis....

tapi tetep ya kesejahteraan naik, ternyata OTAK-nya nggak naik2 juga : ))))

bowo    



5:31 PM

huaaaa...RIO IS BACK !! asli gw blm baca habis postinganmu, gak penting baca dulu mengingat dan menimbang betapa hausnya gw nyela eloe and comment disini :P Rasanya kembalinya postingan loe ini bener2 harus dipestain seluruh pengidolamu yg telah sangat merana menantikan tiara tara updetan yg baru nongol setelah tujuh purnama lamanya ini !! *bukan hiperbola* :)    



8:13 PM

nga, gimana caranya agar gue bisa post postinganlo ini di blog gw? elo ya yg musti ngirim ke gue?

TRus, lenje itu siapa ya? anak fisip? kok dia ngajakin gw ke farewellnya renata? emang renata di mana teh?

satu setengah tahun di DC membuat gw sadar bahwa living in a civil, "decent" society here doesnt necessarily make one more "civilized" (i'm not implying that indonesian people are not civil and decent ya, hehehe...). sometimes, eventhough one's english is way improved, one remains being kampungan.

sheesh.

btw, gw temen blognya rio en temen kantornya renata. she's leaving on august 2, and her farewell party will be thrown at the embassy on july 28. dateng ya! :)    



10:42 AM

BOWO hush! Gila ya ini anak, prejudice dibales prejudice:P. Emang sih selera bule banyak yang kayak gitu, tapi jangan salah, banyak juga lho orang Asia, Indonesia bahkan, yang suka sama tampang2 begitu:P.

APEY Apaan seeehhh... Komennya nggak nyambung ma postingan hehe... Tapi tengkyu ya Pey, tell u the truth gue kangen nulis lagi. Tapi you know lah pengaruh BUROK dari satu milis tertentu dan conference-nya yang tiap hari itu bikin waktu luang gue habis nggak jelas, hehe.. *padahal emang doyan;)*    



11:06 AM

DEB, gila ya manggil gue pake nama kampus:P. Lenje aka Ellen itu anak blog yang kerja di Deplu dan lagi ditempatin di Washington. Dia kenal Ai segala kok, ya wajar kan. Renata lagi ditugasin di Washington juga cuman udah habis dan bakal balik. Salam ya kalo ketemu dia, n Renata.    



12:42 PM

Gue baca berkali kali kok masih gak ngerti ya ? otak gue belakangan ini emang rada tumpul :(

*ngeloyor pergi cari blog yg enteng di baca*

Way    



7:28 PM

alo pa kabar ? gila udah lama banget loe ngak posting :)

gue cuma bisa kasih satu komentar ... kadang gue heran en speechless. Byk banget orang yang bilang dirinya educated tapi tingkah laku seperti orang yang ngak educated. Dangkal banget ... Sekolah tinggi tinggi, tapi kok kayak gitu ... kapan maju nya yah?    



7:15 AM

hmmhhh Ibu muda yang di DC itu pinter banget ya maki2 pake basa inglis-nya?

*gak tau mau komen apa, mati gaya*    



11:49 AM

WAY haha... ntar deh gue posting soal naek gunung kayak lo:P.

MONA iyaaaa... udah kelewat lama. Pakabar Bu? Dah balik ke Indo apa masih di Australia? Blog lo pakabar?

MEL tumben lo mati gaya, hihihi... Kalo buat or(*&%) gak mati gaya doong;).    



6:47 AM

iya... bener banget tuh uda... roma tidak dibangun dalam waktu semalam... hm... dua malam siy *kabuuur*    



4:49 PM

iya abang....
iya abang....
*dengerin bang rio dgn seksama*

btw, nadine bole juga tuh disaranin belajar bahasa inggris ama ibu muda itu yah bang    



2:53 PM

DODY kok tahu, dulu ikutan angkut batu ya:P?

ULI haha... nggak heran kalo gitu.    



10:00 PM

Ya ampyunnnn Rio, akhirnya kau isi jg blogmu setelah sekian lama. Air liurku sampai meleleh-leleh ingin membaca tulisanmu, seperti anjing kepanasan (dramatis mode on) hahahahaha.    



5:51 PM

**Ngangguk-nangguk aja deeh

Gw setuju 101% sama lo

Tosssh...    



10:57 PM

Akhirnya siuman juga dirimu, bang !!!

Welcome back for a moment.

Setuju ama abang, alangkah baiknya bila kita dengan sadar, turut memutus mata rantai ( forward sana sini ) sesuatu yg bersifat melecehkan.

Jadi Roma di bangun dalam berapa hari, bang ??? sempat ngitung gak ??? kasih bocoran dong !!!

*pasang icon kedip kedip mata*    



»

Post a Comment