
Ketika Infrastructure Summit ditunda untuk yang ketiga kalinya—setelah jadwal November, Desember, dan Februari meleset terus—gue mulai bete. Acara segede Summit buat kantor gue itu sama dengan rodi dan penundaannya cuma memperlama realisasi rodi itu sendiri. Buat gue, makin cepat Summit dipastiin tanggalnya, makin jelas apa yang mesti gue kerjain dan makin cepat kerjaan itu dimulai yang berarti makin lama waktu buat gue ngeberesinnya.
Ketika awal Januari diputusin bahwa tanggal 21 Februari akan diadakan acara pengganti Summit, the Pre Summit, mulai saat itu pula rodi dimulai. Puncaknya adalah ketika hari Kamis hingga Sabtu, 16-18 Januari, gue boleh dbilang nggak tidur sama sekali, kecuali satu jam di Sabtu pagi. Sementara malam itu gue udah beli tiket nonton konser 'Viva Vina'. Deg-degan, gue berusaha memberi semangat ketiga orang designer buku dan majalah gue buat kerja lebih cepat sementara orang percetakan udah nongkrong nungguin hasil kerja kita. Sebagai orang yang tanggung jawab sama publikasi kantor, gue udah divonis sama percetakan bahwa mereka hanya bisa menunggu sampe jam tujuh malam kalo mau kelar hari Selasa. Kalau nggak, mereka nggak berani ambil risiko untuk mencetak dan itu berarti semua orang yang hadir di Pre Summit, dari menteri sampe investor, nggak bakal nerima buku-buku yang hampir dua bulan kita siapin dengan sejuta rapat ke sana ke mari. Dan itu berarti: gue bakal ditembak mampus (baca: pecat).

Gue sangat nikmatin konser di malam Minggu itu sampe lupa kalo gue make baju yang sama dengan yang gue pake sejak hari Kamis.