Wednesday, July 12, 2006

Bhinneka Susah Caranya


Kemaren ini, temen kuliah gue, Debbie, yang baru pindah ke Washington DC ngikutin suami bulenya yang pindah kerja di sana, ngirim email ke milis angkatan gue tentang ’perdebatan’ dia dengan kenalan barunya di DC. Sebelom lo lanjutin baca tulisan ini, baca deh tulisan Debbie di blog-nya yang masih sangat anyar biar bisa dapat latar belakangnya. Ketika gue mulai menulis komentar gue, nggak terasa tulisan gue udah kepanjangan hingga akhirnya gue putusin untuk memuat komentar ini di blog gue sendiri, sekalian meng-update blog yang udah lama mati suri ini, hehe...

So, Deb, ini pendapat gue:

Deb, knowing you, gue tahu lo cuman ngekspresiin apa yang lo rasa dan apa yang lo bilang bener banget. Gue ngaminin semua perkataan lo. Nggak seharusnya kita ikut tertawa ketika kita melihat ketidakadilan diskriminatif opresif terjadi di sekeliling kita. Dan perempuan yang dipelorotin kembennya secara sengaja itu merupakan wujud ketidakadilan akibat kecenderungan sikap opresi dan diskriminasi yang banyak dialami perempuan di manapun di dunia ini. Tapi gue nggak mau buka polemik soal feminisme karena bisa panjang dan nggak ketahuan juntrungan:D. Gue cuma mau lihat masalah ini dari sisi lain, yaitu CARA nyampeinnya.

Gue SANGAT SETUJU kalo cewek itu nggak seharusnya dan bersalah dengan ikut tertawa dan nyebarin gambar itu kemana-mana dengan label yang nggak banget, "afternoon humor, lucu nih..." It's so insensitive, dan mengingat itu dikirim oleh perempuan bikin masalah ketidaksensitivan itu jadi tambah nggak masuk akal. Lo perempuan gitu lho, kok malah lo yang nyebarin gambar yang jelas-jelas merendahkan perempuan? Kalo lo yang dipelorotin dan seluruh dunia saling mem-forward gambar itu, apakah lo bisa ikut tertawa bersama semua orang dari Timbuktu sampe Honolulu? Gue yakin nggak.

Cuma Deb, kadang buat bikin orang nyadar bahwa tindakan dia salah, cara kita ngingetin dan ngasih tahu bisa berarti banyak buat bikin orang menerima atau menolak pendapat kita. Gue pernah nerima beberapa foto lewat email yang dikirim sama temen gue yang isinya adalah gambar beberapa perempuan pake jilbab yang berani, maaf, telanjang. Gambar-gambar ini meraja-lela waktu kasus video Lombok Membara yang isinya ngesyut secara diam-diam cewek berjilbab ML di pinggir kali sama cowoknya. Setelah itu muncul gambar-gambar cewek berjilbab yang lagi, maaf lagi, telanjang dan berhubungan seksual. Dan JAHATNYA, ya itu tadi, beberapa jelas banget berupa REKAYASA. Sisanya gue nggak bisa yakin, apa emang bener cewek berjilbab beneran yang lagi gendeng sampe mau difoto kayak gitu ato malah cewek yang pake jilbab buat mendiskreditkan atau fotomodel porno yang sengaja pake jilbab buat menuhin fantasi gila-gilaan orang yang berhasrat seksual terhadap cewek berjilbab seperti sebagian orang yang berhasrat seksual terhadap pastur ato biarawati. Susah emang, ada pasar ada barang.

Akhirnya gue bilang ke teman gue begini, ini copy paste email gue:

From: Rio bilang
Mailed-By: gmail.com
To: A
Date: Jun 8, 2006 2:32 PM
Subject: Re: FW: Cewek Jilbab - ckckckck

A,

Gambar2nya kebanyakan rekayasa dan kamu ngebantu nyebarin gambar dari orang yang belum tentu salah.

Kasihan kan:(. Aku nggak tega lihatnya.


Dan dijawab:

From: A < x@y.z>
To: Rio bilang
Date: Jun 8, 2006 3:04 PM
Subject: RE: FW: Cewek Jilbab - ckckckck

Maap ya.

Aku gak liat semuanya.

Maap banget, yang aku liat cuma satu dan itu ada org jilbaban lagi pegang itu cowoknya.


Reaksi teman gue yang menerima keberatan gue dengan baik, tanpa sikap defensif sama sekali, bisa jadi karena dia teman gue. Sementara lo ngelempar kejengkelan lo ke milis yang isinya bukan (belum) bisa dianggap temen lo semua, baru sekumpulan kenalan baru. Akibatnya, ribut.

Gue ngerti banget kalo lo jengkel karena reaksi perempuan yang ngirim video itu kelewat DEFENSIF dan buntut-buntutnya malah ngamuk ketika lo kasih argumen balik. Tapi menurut gue, orang Indonesia, bodo amat udah lama ato nggak tinggal luar, belom tentu punya semangat demokrasi yang bisa dan biasa diajak bertukar pikiran dengan bebas dengan bahasa yang intelek. Balasan dia yang penuh kata mutiara itu jelas nunjukin she's that kind of Indonesian. Orang kita belom pinter berpolemik, berbeda pendapat jadi haram, karena berbeda dianggap aneh dan harus dibasmi. Ironis ya, padahal dari kecil kita dinina-bobo-in sama semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Nggak ngaruh kayaknya.

Gue juga yakin lo pasti gatel pengen bilang bahwa sebenarnya ini nggak boleh jadi alasan pembenaran. Lagi-lagi, gue setuju;). Mengutarakan pendapat lo, ketidakpuasan lo terhadap apa yang tidak seharusnya terjadi, seharusnya teteup kudu dan harus bisa lo sampein ke yang bersangkutan. Apalagi kalo orang yang lo ajak ‘debat’ adalah orang yang berpendidikan tinggi, tambah wajib banget buat disampein dan diingetin. Gila aja, udah sekolah tinggi-tinggi kok lo masih nggak terbiasa dan nggak bisa berbeda pendapat ato ngutarain pendapat lo dengan bahasa yang terdidik dan argumen yang kritis, dan sebaliknya, masih menganggap KRITIK dan SARAN itu sebagai bentuk serangan terhadap harga diri. Grow up people.

Tapi, kalo belajar dari pengalaman gue terakhir, sometimes, in dealing with Indonesians – in my case, a freshly imported Javanese with consequently Javanese culture upbringing;) – even the highly educated ones, one has to really consider the approach to be used in expressing differences with other party. You can't achieve your goal by being offensive. My experience further proves that intelligent has little to do with empathy and emotional maturity. Different ways of expressing and channeling your discontent towards the ignorance shown by people around you will generate different responses. And you can't change people's mindset in a day or two. It takes time.

So, be patient dear Debbie;), Rome is not built in a day.

Monday, March 13, 2006

Profil Anak Jkt Taon 80-an, Versi Gue

Pengakuan dosa. Gue ngabisin jam lunch gue buat ngotak-atik kiriman Golda yang sebenarnya udah lama beredar. Ada yang bilang, yang mulai bikin daftar ini anak FISIP UI dan udah beredar lama dengan jumlah nyampe seratus sekian.

Eniwei, gue ngisi segininya aja deh, capek. Secara gue lagi suntuk sama kerjaan padahal besok ada deadline. Oh no, alamat begadang ntar malem.

Ini profil gue, kalo lo;)? Hayo ngaku. Baca lengkapnya di sini.