skip to main |
skip to sidebar
Mobil gue arahkan ke bahu jalan yang nggak beraspal dan gue berusaha terus mempertahankan posisi hingga kecepatan semakin melambat. Untungnya jalanan agak mendatar dan ketika kecepatannya udah nggak terlalu tinggi gue menarik rem tangan sehingga mobil lebih cepat berhenti. Lega. Nggak ada apa-apa dan di jok belakang keponakan gue teteup jejeritan nggak karuan bareng Ariel.
Gue dan abang ipar gue keluar mobil untuk memeriksa mesin. Errr ... dalam hal ini tentu abang ipar gue yang lebih berkompeten ya. Dan ternyata oh ternyata, puli kruk as depannya patah (satu benda yang gue baru tahu nama dan keberadaannya) sehingga tali kipas lepas. Kami coba menghentikan kendaraan untuk meminta bantuan, baru setelah beberapa lewat nyuekin, sebuah truk berhenti. Gue minta tolong diantarkan ke pos polisi pengaman jalur mudik terdekat sementara abang ipar gue jaga mobil beserta isinya.
Untung pos tersebut nggak jauh, hanya beberapa ratus meter. Gue ceritain masalah ke petugas yang ada dan kami pun balik ke TKP diantar salah seorang warga yang kebetulan memiliki mobil. Sayang, dia nggak bisa membantu lebih lanjut, terutama untuk menarik mobil abang ipar gue ke pos tersebut karena ada urusan lain. Begitu gue dan dua orang petugas sampai di tempat mobil yang rusak, abang ipar gue pun ambil keputusan untuk menyuruh gue membeli onderdil yang dibutuhkan di kota terdekat, Betung, yang terletak kira-kira 20 km dari tempat mobil gue rusak. Sementara itu, polisi dan abang ipar gue cari jalan buat menarik mobil ke pos polisi.
Gue menghentikan sebuah bus mini antarkota yang melintas. Begitu masuk, gue disambut oleh bebauan tujuh rupa mulai dari minyak angin sinyongnyong, keringat, dan bebauan yang gue nggak mampu tebak asalnya dari berbagai jenis karung dan barang yang bergeletakan di lantai bus. Selain smell effect, sound effect di dalam bus itu juga cukup dahsyat. Mulai dari ibu-ibu yang setiap lima menit muntah, suara bayi menangis, dan mesin mobil yang memekakkan telinga. Lima belas menit perjalanan terasa lima belas jam penuh siksaan buat gue. Gue ngerasa lega ketika akhirnya bus berhenti di sebuah restoran. Sialnya, gue beom sampai kota Betung. Gue terpaksa cari cara lain pergi ke kota.
Untung, hanya lima puluh meter dari restoran gue melihat kantor polisi dan gue datengin dengan harapan ada yang bisa nganter gue ke Betung. Seorang banpol menghampiri gue dan mengatakan bahwa cara termudah ke kota adalah dengan naik taksi. Errr ... taksi? Nggak salah, Mas? Ditemani banpol yang ternyata bernama Wawan yang berkampung halaman di Klaten, gue berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Percuma ngimpi taksi Burung Biru dan teman-temannya lewat karena yang namanya taksi di daerah ini adalah angkot dengan pintu di belakang.
Lama, nggak ada satu taksi pun lewat. Akhirnya gue bertanya sama dia kalo-kalo ada orang yang memiliki motor untuk bisa mengantarkan gue. Ternyata, dia sendiri punya. Duh, Mas Wawan, kenapa nggak bilang dari tadi toh? Dia pun mengambil motornya dan gue membonceng di belakang. Di tengah perjalanan gerimis mengundang mulai menetes. Gue cuma ngebatin, nggak bisa lebih sial lagi ya? Tiba-tiba dia nawarin untuk menyewa taksi milik temannya yang langsung gue iyain sambil nggerundel dalam hati, mbok kalo nawarin jangan tanggung-tanggung gitu lho. Temannya Wawan bernama Siswono, kalo nggak salah, berasal dari Wonosobo.
Errr ... gue jadi mikir, kok orang-orang di sini berasal dari Jawir semua ya? Ini jalan lintas Sumatra dan bukan pantura kan? Gimana mungkin gue ketemu Jawir-jawir berlogat medok dan tetap bicara dengan bahasa ndewek kepada sesamanya. Heran deh. Tapi gue sadari bahwa gue untuk pertama kalinya baru berkenalan dengan para keturunan transmigran dari Jawa. Mereka adalah generasi kedua transmigran yang dimukimkan kembali di Sumatra. Wawan dan Wono bercerita bahwa mereka lahir dan besar di Sumatra dan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Jawa.
Gue jadi teringat dengan transmigrasi, program penyebaran penduduk yang beken di zaman orde baru yang punya cita-cita mulia untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Udah lama gue nggak mendengar tentang program ini dan nggak yakin apakah program ini masih ada atau udah mati seperti orde yang menggiatkannya. Yang gue juga nggak tahu, adakah tinjauan tentang keberhasilan pelaksanaan program ini. Program yang sering dituduh sebagai upaya Jawanisasi—seperti penamaan kelurahan untuk semua wilayah administrasi desa di seluruh Indonesia—ini emang punya pendukung dan, tentunya, penentangnya. Tapi seperti semua penentang kemapanan orba, suara mereka tenggelam. Yang pasti program ini udah berjalan belasan tahun dan sering dipropagandakan lewat lagu mars yang dulu sering diputar di TVRI (ada yang ingat?).
Mereka, Wawan dan Wono, masing-masing bercerita tentang suka duka hidup di negeri orang yang umumnya adalah masalah-masalah klasik adaptasi sosial dan budaya. Dengan suara medok, mereka bercerita tentang perselisihan dengan penduduk setempat. Tentang senjata api ringan dan senapan yang banyak beredar dan dimiliki oleh penduduk asli dan pendatang. Tentang perselisihan kecil seperti orang mabuk di pesta yang bisa menyebabkan perkelahian dan baku tembak. Tentang ketidakberdayaan polisi dalam jumlah kecil untuk mengatasi itu semua. Tentang harapan untuk kembali melihat tanah Jawi, tanah asal mereka yang terasa jauh.
Di tengah keheningan dan kedamaian hutan karet dan kelapa sawit Sumatra Selatan, gue bergidik. Gue nggak sanggup membayangkan bahwa di daerah terpencil seperti ini anarki seperti itu bisa terjadi. Dari mana mereka bisa dapat senjata? Apa upaya untuk menjembatani perbedaan? Kalau orang satu suku aja bisa bunuh-bunuhan di Ambon dan Poso, apalagi orang yang berbeda suku dan budaya? Gue teringat beberapa tahun lalu ketika orang Madura dan Dayak berselisih senjata hingga memakan korban jiwa di Sambas, Kalimantan.
Seribu pertanyaan berkecamuk di benak gue. Akankah perseteruan antarsuku, antara penduduk asli dan pendatang, seperti di Sambas menyeruak di tanah Sumatra? Mengapa pembauran itu begitu sulit terjadi? Mengapa perbedaan itu begitu sulit untuk dihormati keberadaannya? Mengapa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dengan kita menjadi begitu sulitnya?
Gue nggak akan bisa merasa aman pulang kampung tahun-tahun mendatang kalo terjadi apa-apa di wilayah ini.
Semua orang pasti tahu siapa itu Peter Pan. Gue mungkin termasuk orang yang telat kenal dengan makhluk yang bernama Peter Pan itu. Gue tahu lagu-lagunya justru karena kebanyakan ngedengerin pengamen di Menteng yang silih berganti nyanyiin lagu-lagu mereka. Gue baru tahu namanya Peter Pan ketika mereka udah berhasil ngejual lebih dari sejuta kopi album rekamannya. Bahkan, sampe sekarang gue belom pernah lihat video klip hit terbesar mereka, “Ada Apa Denganmu?”
Telat ya? Gue tahu. Dan gue sadari betapa gue super telat menyadari kehadiran grup ini ketika di satu malam minggu di Kafe Pisa, Menteng, ketika gue lagi asyik makan dan ngobrol di acara ulang tahun teman gue, tiba-tiba penyanyi home band-nya Kafe Pisa ngebacain permintaan lagu “Ada Apa Denganmu?” dan menyapa orang meminta lagu itu. Yang ada, gue terkaget-kaget ketika ngelihat siapa yang minta lagu itu!
Beberapa orang bocah!
Dan ketika akhirnya lagu itu dinyanyiin, seorang bocah perempuan tanpa malu-malu langsung naik panggung—gue rasa pasti pernah ikut kursus presenter-nya Dewi Hughes buat bocah yang lagi ngetren itu—dan nyanyi sambil goyang-goyang pinggul ala Inul! Satu orang penyanyi dengan bodohnya memberikan mikrofonnya kepada seorang bocah cowok yang berdiri dekat panggung dan menatap panggung sambil ngiler sehingga akhirnya dia dibiarkan menyanyikan sisa lagu “What’s wrong with you?” itu sampe selesai! Tanpa salah dengan suara fals nggak karuan.
Bodoh kan? Gue rasanya mau ngerebut mike dari bocah itu dan njitak penyanyinya sambil bilang, “Coba yaaa ... Ini kafe, bukan TK deh!”
Gue nggak pernah berharap masuk kafe dan mendengar suara fals bocah nyanyi lagu dewasa dan mengganggu kenikmatan gue hang out. Apa ini kafe udah berubah jadi night care center buat ngasuh para bocah yang orang tuanya kerja malam? Ketika gue lihat dengan siapa pada bocah itu datang, ternyata mereka datang dengan orang tua mereka sendiri yang asyik ngobrol sesama mereka.
Woiii... nyadar dong! Ngapain lo bawa anak ke kafe tengah malam? Begini ya, kafe itu bukan Dufan ato Taman Safari. Jangan dianggap tempat piknik deh! Jadi, kalo lo nggak bisa nemuin pengasuh yang bisa ngejagain mereka ketika lo mau gaul sampe malam ... ya, jangan pergi! Apalagi di malam minggu yang jelas banget tujuan lo cuman buat senang-senang doang! Dan gue pikir, bukankah menghabiskan waktu bersama anak lo seharusnya membuat lo lebih bahagia daripada nongkrong di kafe bareng temen-temen lo? Heran gue.
Dan jangan nganggap bahwa bawa anak ke kafe itu sebagai ide cerdas buat nunjukin tanggung jawab lo sebagai orang tua yang nggak tega ninggalin anaknya tanpa pengawasan ya. Otak udang! Buat gue, itu cuma nunjukin keegoisan dan kebebalan lo serta rendahnya tanggung jawab lo sebagai orang tua! Maksudnya apa? Sementara lo asyik ngobrol anak lo bakal belajar: oom itu minum apa sih, kok kayaknya abis minum ketawa-tawa melulu, aku abis minum susu kok biasa aja ya; wah tante penyanyinya kayak nggak pake baju, ya; lho, oom sama tante itu kok ciumannya di bibir ya, emang enak? jadi pengen tahu. Sementara itu, lo terus asyik ngobrol sama temen-temen lo.
Gue jadi emosi jiwa.
Ngelihat ada orang tua bawa anaknya ke kafe sama bikin jengkelnya kayak lihat orang tua yang bawa anaknya buat nonton film ‘Flight Plan’ dan semua film dewasa lain. Dan ketika anaknya ketakutan baru mereka—atau baby sitter-nya—keluar di tengah film. Tolol! Untung lo nggak dekat-dekat gue ya, kalo nggak, gue bakal siram coca cola begitu anak lo buka mulut bertanya soal jalan cerita film. Bukan anak lo, tapi lo, bego! Kalo nggak bisa ninggalin anak di rumah sendiri, ajak anak lo pergi ke ITC Kuningan, beli DVD sambil belanja di Carrefour, trus nonton tuh film tengah malam waktu anak lo udah tidur! Jangan ke bioskop! Ganggu orang, tahu!
Dan balik ke Kafe Pisa di malam itu, ketika lagu sejuta umat itu kelar dinyanyiin anak-anak mereka, para orang tua itu memberikan tepuk tangan dengan wajah bangga. Bangga atas keberanian anak-anak mereka beraksi di depan umum. Dan ketika kebanyakan orang satu kafe ikut bertepuk tangan, gue jadi merasa terasing. Ini gue yang aneh, ato mereka yang gila sih. Gue nggak ngerasa hal seperti itu layak diberi dukungan. Berani nyanyiin lagu orang dewasa di sebuah kafe bukan jenis keberhasilan yang bakal bikin gue bangga kalo keponakan gue bisa lakukan.
Tapi gue tergigit lidah ketika hari Senin di malam kedua puluh sembilan Ramadhan, ketika abang ipar gue mulai menjalankan mobilnya memulai perjalanan panjang ke Bonjol, Faiqal, keponakan gue yang baru berumur 3,5 tahun itu minta gue yang duduk di depan buat muterin kaset Peter Pan. Hah? Nggak salah? Dan ketika dia bisa ngikutin lirik lagu-lagu Peter Pan, dengan ditingkahi oleh Aydin, adiknya yang baru berusia dua tahun, yang meneriakkan ujung kalimat, “... SURGAAAA!”, gue cuma bisa ngelus-ngelus dada. Gue nggak bisa ngelarang, apalagi marah.
Ternyata, anak sekarang ternyata emang kekurangan hiburan yang sesuai umur mereka dan banyak orang tua yang ambil jalan pintas—mungkin karena sedikitnya pilihan—untuk membiarkan anaknya menikmati hiburan yang dewasa. Di lain pihak, Chicha sama Adi udah punya anak seumuran keponakan gue. Joshua udah berjakun biar teteup medok, sementara Sherina sekarang udah masuk pengawasan Neng Sarah sama Mpok Jane! Maklum, ABG, udah mulai salah kostum. Bocah sekarang emang nggak punya penyanyi idola baru. Tina Toon? Oh plisss ... Walau gue sangat mengagumi kelenturan bocah gembil ini, tapi yaaaa ...lagunya yang ngetop apaan sih? Biar nggak senyebelin Maissy ... tapi gayanya? Ampuuunnn ...
Dalam perjalanan ke Bonjol, gue terus disiksa oleh suara sengau Ariel selama Faiqal dan Aydin masih melek. Gue cuma bisa terbebas dari kemonotonan lagu-lagu Peter Pan kalo bocah-bocah itu udah tidur. Kalo nggak, kaset itu terus diputar dan nggak ada yang bisa matiin karena risikonya adalah amukan Faiqal dan Aydin. Dan nggak ada orang waras yang mau ambil risiko keponakan gue itu ngamuk menjerit dan memukul di dalam mobil yang penuh barang dalam perjalanan melelahkan selama hampir 40 jam ke kampung halaman.
Dan sekitar pukul 15.30 esok harinya, Selasa, ketika keponakan-keponakan gue asyik nyanyiin lagu-lagunya Peter Pan untuk yang entah untuk ke berapa kali, gue sibuk mengemudikan mobil melintasi daerah persawangan Sungai Lilin, Sumatra Selatan, melewati lubang-lubang besar dan kecil jalan yang seperti ranjau bikin gue harus zig zag melewati jalan lintas timur Sumatra yang turun naik seperti roller coaster dan bikin nyetir jadi penuh tantangan.
Di tengah keriwehan itu semua, mendadak, ketika gue menginjak rem untuk mengurangi kecepatan di jalan turunan, rem itu nggak berfungsi, nggak ada tekanan apa-apa. Sementara mobil gue terus melaju kencang tak terhentikan. Gue coba seimbangkan kecepatan mobil dengan menginjak kopling setengah dan membanting setir ke kiri dan kanan menghindari lubang-lubang jalanan yang menghadang. Dengan kecepatan tinggi mobil gue kemudian naik mendaki jalan dan dari arah depan sebuah truk melaju kencang menuruni jalan. Gue banting setir ke pinggir jalan yang tak beraspal, sambil berteriak ke abang ipar gue yang tidur di bangku belakang:
“Bang! Remnya blong!”